Daftar Blog Saya

Kamis, 28 Januari 2010

peran ulama dan pengaruhnya terhadap dakwah islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Ulama merupakan elemen yang paling esensial dari suatu masyarakat. Keberadaan seorang ulama dalam lingkungan masyarakat adalah laksana jantung dalam kehidupan manusia. Begitu urgen dan esensialnya seorang ulama.
Secara ideal, seorang ulama diharapkan berperan sebagai figur moral dan pemimpin sosial, serta tokoh sentral dalam masyarakatnya, sebab di bahu merekalah terletak cita-cita dan eksistensi umat. Oleh karena itu ukuran seorang Ulama tidak dapat hanya dilihat dari segi apa yang dilakukannya dan dari karakteristik pribadinya saja, tetapi yang penting sejauh mana masyarakat memberikan pengakuan kepadanya.
Tetapi pada kenyataannya, Ulama sebagai salah satu elemen yang esensial di dalam subsistem masyarakat di dalam menanggapi serta menyikapi suatu fenomena politik sering kali sebagian dari mereka hanya menonjolkan emosional religinya tanpa dibarengi suatu adaptasi rasional terhadap masalah-masalah sosial politik didalam konteks kebangsaan yang plural serta dinamis.
Dengan berpijak kenyataan yang terjadi di lapangan tersebut, maka perlu kiranya diberdayakan suatu kerangka dasar untuk pemberdayaan ulama, sebagai salah satu unsur yang substansial dalam masyarakat yang diharapkan nantinya dapat dijadikan sebagai teladan dalam pendewasaan masyarakat luas.
Pada kenyataannya banyak didaerah tertentu dalam komonitas masyarakat tertentu yang terjadi krisis ulama dalam artian seorang ulama yang tidak sesuai dengan posisinya.tak trkecuali didesa Tegal Gubug, Kec. Kaliwedi Kab.Cirebon. Padahal posisi Ulama di tengah-tengah masyarakat yang berfungsi sebagai guru agama, pemberi fatwa dan rujukan hukum, pemimpin kerohanian (spiritual leader), juga pemimpin keilmuan (intelectual leader) yang notabenenya mereka tidak terjun dalam dunia politik.
Dalam hadist, Rasulullah saw bersabda :” kaum ulama adalah pemegang amanat Rasul (intuk disampaikan) kepada hambah-hambah Allah selagi mereka tidak bergaul dengan para penguasa. Apalagi mereka telah menjalin hubungan dengan para penguasa berarti mereka telah berkianat kepada Rasul, oleh karena itu hati-hatilah kepada mereka dan jauhilah mereka (Al-Gozali, 1986:56)
Ulama yang disebut sebagai warasatulanbiyah tentunya adalah mereka yang memang mewarisi–selain semangat perjuangan menegakan kebenaran-sikap dan perilaku para nabi. Para nabi mempunyai ciri dominan yang seharusnya juga dimiliki oleh ulama pewarisnya, abtara lain yaitu taqwa kepada Allah SWT, penuh kasi sayang terhadap umat dan mencontoh teladan yang baik untuk mereka. Serta menegakan kebenaran dan menyatakan yang haqq.
Berangkat dari latar belakang diatas maka penulis menganggap enting meneliti tentang karakteristik seorang ulama dan urgensi peran ulama dalam masyarakat sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist bagi kelangsungan dakwah Islam.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah karakteristik seorang Ulama ?
2. Bagaimana pola dan gaya yang lakukan oleh Ulama untuk mensosialisasikan visi agamanya kepada masyarakat?
3. Dimanakah letak urgensi Ulama di masyarakat desa Tegal Gubug, Kec. Arjawinangun, kab. Cirebon ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan :
1. karakteristik seorang Ulama.
2. pola dan gaya yang lakukan oleh Ulama untuk mensosialisasikan visi agamanya kepada masyarakat.
3. letak urgensi Ulama di masyarakat desa gegesik, kec. Gegesik, kab. Cirebon.

D. Kerangkah Pemikiran
Secara umumnya, orang yang ahli dalam ilmu pengetahuan agama Islam disebut ulama. Dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, seseorang ulama memiliki rasa takwa, takut, dan tunduk kepada Allah s.w.t.
Sedangkan dalam Ensiklopedi Islam Ulama adalah orang yang tahu atau yang memiliki pengetahuan ilmu agama dan ilmu pengetahuan kealaman yang dengan pengetahuannya tersebut memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah SWT. Kata Ulama merupakan bentuk jamak dari 'Alim atau 'Alim, yang keduanya berarti "yang tahu" atau "yang mempunyai pengetahuan"( Ensiklopedi Islam, 1993:120)
Ulama sebenarnya juga merupakan cendekiawan atau intelektual Islam yang mengenali Allah s.w.t, bekerja serta berjuang mengikut lunas-lunas Islam yang berasaskan prinsip ketakwaan. Dengan pengertian yang lain ialah sebagaimana yang ditakrifkan oleh al-Quran dalam surah Fathir ayat 28, yang bermaksud: “Sesungguhnya yang takut (bercampur kagum) kepada Allah daripada hamba-Nya ialah ulama.”
Kata ‘ulama’ juga disebut dalam konteks huraian tentang kebenaran kitab suci al-Quran (lihat surah al-Syuara ayat 192-197). Maknanya, kata ‘ulama’ itu dua kali disebut di dalam al-Quran.
Di sisi lain, para ulama atau cendekiawan dinilai al-Quran sebagai telah mewarisi Kitab Suci (lihat al-Quran surah Fathir ayat 32) dalam maksud memahami dan meletakkan fungsi al-Quran sebagai “pemberi keputusan yang bijaksana dan jalan keluar bagi perselisihan dan masalah umat manusia” (lihat al-Quran surah al-Baqarah ayat 213)
Ulama adalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang ayat-ayat Allah s.w.t, baik yang bersifat kauniyyah (berdasarkan gejala alam semesta) mahupun quraniyyah (bersangkutan kandungan al-Quran). Ulama diakui sebagai cendekiawan yang memegang autoriti dalam hal pengetahuan agama Islam. Dalam bahasa Arab, kata `ulama’ merupakan bentuk jamak daripada kata ‘alim’, iaitu orang yang mempunyai ilmu yang luas serta mendalam.
Pada mulanya, kata `alim’ dan `ulama’ merupakan sebutan bagi semua kelompok dan orang yang berkecimpung dalam lapangan ilmu pengetahuan. Pada abad kedua Hijrah muncul keanekaragaman disiplin ilmu agama dan ilmu umum. Sejak itu sebutan ulama tenggelam dalam sebutan baharu yang telah disesuaikan dengan disiplin ilmu yang diceburi oleh seseorang.
Umpamanya, orang yang menekuni fikh disebut fakih; yang mendalami kalam disebut mutakalim; dan yang menekuni filsafat disebut filsuf atau ahli falsafah. Kemudian akhirnya sebutan ‘ulama’ merujuk kepada sekelompok orang yang secara khusus menekuni ilmu pengetahuan dan urusan keagamaan.
Terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang menyatakan: Sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Meskipun Ibnu Hajar al-Asqlani ahli hadis, beliau meragui kesahihan hadis ini, tetapi jiwa hadis ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam al-Quran dalam surah Fathir ayat 32 yang bermaksud: “Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami…” Ketika para Nabi sudah tiada, maka tugas para ulama ialah tabligh (menyampaikan).
Justeru, ada empat tugas yang harus dilaksanakan oleh ulama dalam kedudukan mereka sebagai pewaris Nabi.
Pertama, menyampaikan ajaran kitab suci al-Quran (tabligh), justeru sepertimana Rasulullah s.a.w diperintahkan: “Wahai rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika engkau tidak (melakukannya), maka bermakna tiadalah engkau menyampaikan perutusan-Nya: Allah jualah akan memeliharamu dari (kejahatan) manusia.” (Al-Maidah: 67)
Kedua, menjelaskan isi kandungan kitab suci al-Quran, sesuai dengan firman Allah s.w.t yang bermaksud: “Dan kami turunkan kepadamu al-Quran agar kamu jelaskan kepada manusia.” (Al-Nahl: 44). Ia juga menuntut ulama untuk terus menerus mengajar kitab Allah dan sekali gus membaca dan mempelajarinya (Surah Fatir ayat 35) atau dalam istilah al-Quran menjadi rabbaniyin yang hanya menyembah Allah Taala dengan ilmu dan amal yang sempurna (maksud surah Ali-Imran ayat 79). Maknanya, ulama atau ilmuwan dituntut untuk memberi nilai rabbani pada ilmu mereka.
Dan ingatlah, dalam menyampaikan ilmu Allah s.w.t ini, jangan mengharapkan untuk memperoleh imbalan yang lebih banyak kerana sifat seumpama ini akan menjerumuskan ulama kepada sifat yang tidak baik dalam penelitian dan penerapan ilmunya mahupun dalam pengabdiannya. Allah berfriman yang bermaksud: “Dan janganlah engkau memberi (sesuatu, dengan tujuan hendak) mendapat lebih banyak daripadanya.” (al-Muddaththir: 6)
Adanya keupayaan dan kekuatan mempelajari kitab Allah ini melahirkan fungsi ketiga ulama, iaitu memberi keputusan dan penyelesaian kepada masalah yang dihadapi dalam masyarakat sesuai dengan firman Allah s.w.t yang bermaksud: “Dan dia (Allah) menurunkan bersama Nabi-nabi itu kitab-kitab suci yang (mengandungi) keterangan-keterangan benar, untuk menjalankan hukum di antara manusia mengenai apa yang mereka perselisihkan.” (al-Baqarah: 213)
Al-Gozali dan umumnya para muhaqqiq menyebut ulama dunia sebagai ulama su’. Intinya berbeda dengan ulama akherat .
Ulama yang disebut sebagai warasatulanbiyah tentunya adalah mereka yang memang mewarisi –selain semangat perjuangan menegakan kebenaran-sikap dan perilaku para nabi. Para nabi mempunyai ciri dominan yang seharusnya juga dimiliki oleh ulama pewarisnya, abtara lain yaitu taqwa kepada Allah SWT, Penuh kasi sayang terhadap umat dan mencontoh teladan yang baik untuk mereka. Serta menegakan kebenaran dan menyatakan yang haqq. Allah SWT memberikan utusan-Nya. Nabi Muhammad saw. Dalam kitab sucinya sebagai berikut :q.s 9 ayat 128
Mengambil termenologi al-Gozali, boleh jadi, kita dapat melihat adanya dua tipikal ulama, yaitu ulama akherat dan ulama dunia. Yhang pertama selalu berpegang pada garis Tuhan tetapi yang kedua sebaliknya. Ulama su lebih banyak berbicara soal keduiaan dan lebih fasih berbicara soal harta.
Sedangkan Horikoshi (1987) menganggap bahwa fungsi keulamaan dalam dilihat dari 3 aspek yaitu : (1) sebagai pemangku masjid dan madrasah; (2) sebagai pengajar dan pendidik; (3) sebagai ahli dan penguasa hukum Islam
Para Ulama dengan kelebihan pengetahuan dalam Islam, seringkali dilihat sebagai seorang yang senantiasa dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam (Dhofier,1984) sehingga dengan demikian mereka dianggap memiliki kedudukan yang agung dan tak terjangkau, terutama kebanyakan oleh orang awam (Arifin, 1988). Dalam beberapa hal, Ulama menunjukkan kekhususan mereka dalam bentuk-bentuk pakaian yang merupakan simbol kealiman yaitu kopiah dan surban (Horikosih,1987). Mereka tidak saja merupakan pimpinan pesantren tetapi juga memiliki power di tengah-tengah masyarakat, bahkan memiliki prestise di kalangan masyarakat (Geertz, 1981).
Misi utama dari Ulama adalah sebagai pengajar dan penganjur dakwah Islam (preacher) dengan baik. Ia juga mengambil alih peran lanjut dari orang tua, ia sebagai guru sekaligus pemimpin rohaniah keagamaan serta tanggung jawab untuk pekembangan kepribadian maupun kesehatan jasmaniah.
Dakwah pada hakekatnya adalah upaya untuk merubah suatu keadaan tertentu menjadi keadaan lain, baik menurut tolak ukur ajaran agama Islam. Oleh sebab itu, kegiatan dakwah bukan sekedar dialog lisan, tapi juga dialog-dialog lainnya seperti: dialog karya, dialog seni, dialog budaya, dan sebagainya. (Shidiq Amin, 1997:36). Dakwah merupakan upaya menciptakan rahmatallil’alamin. Oleh karena itu ia harus disampaikan tanpa tawar menawar dan untuk seluruh umat manusia. Disampaikan dalam kerangka dasar amar ma’ruf nahi munkar, penuh persuasif, demokratis dan metodologis. Seperti yang terkandung dalam Al-Qur’an Surat 3:104:
  •             

Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Hakikat dakwah Islam adalah ajakan atau seruan menuju jalan Allah demi kebaikan dan kebenaran sesuai ajaran Al-Qur’an. Manifestasi dakwah diwujudkan dalam bentuk amar ma’ruf nahyi munkar, untuk melakukan suatu perubahan individu dan masyarakat, dari suatu keadaan yang kufur menjadi beriman, kondisi yang buruk menjadi lebih baik, situasi yang kacau menjadi lebih kondusif. Kegiatan dakwah dapat diterima oleh masyarakat, jika dilakukan dengan cara yang bijaksana berdasarkan wawasan ilmu pengetahuan (bil hikmah), dengan nasihat yang tulus diikuti contoh serta teladan yang baik (mau’idhah hasanah), dan jika perlu melalui suatu diskusi, dialog, seminar, lokakarya atau simposium menggunakan argumentasi logik dan rasional, jauh dari gejala-gejala tindakan emosional (wajadilhum billati hiya ahsan). Begitu luhurnya makna dakwah selaras dengan keluhuran ajaran agama Islam “ya’lkuu walaa yu’laa alaihi” dan telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dalam praktek dakwah yang simpatik, berdasarkan hati yang lemah lembut, penuh kedamaian dan kesejukan, sesuai tuntunan norma dan nilai-nilai Al-Qur’an,sehingga mampu mengantarkan terjadinya suatu perubahan.
Seperti yang terkandung dalam Al-Qur’an. Q.S An-Nahl ayat 125.
             •     •       

Artinya : “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Fungsi ulama sangat urgen sekali terhadap perkembangan masyarakat karena ulama sendiri adalah sebagai tokoh sentral dari sebuah masyarakat, makanya ulama harus lah benar-benar ulama yang sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis.
Pada kenyataannya dibanyak daerah terdapat krisis ulama tak terkecuali masyarakat Tegal Gubug, Kac. Arjawinangun, Kab.Cirebon masi banyak orang yang mendapat peredikat ulama tetapi jauh dari rumusan ideal ulama sendiri. Hal ini ditandai dengan masi banyaknya masyarakat ang amoral dan yang menjadi ironosnya hanya sebagian kecil ulama yang memperhatikan kemerosodan moralitas masyarakat tersebut, makanya pada idealnya masyarakat yang beradab adalah masyarakat yang mempunyai kepemimpinan yang gridible dalam semua bidang ilmu pengetahuan. Dan yang menjadi salah-satu pemimpin yang sangat berpengaruh bagi perkembangan masyarakat yang islami adalah ulama dalam lancarya dakwah Islam.

E. Metodologi Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, digunakan penelitian lapangan, maksudnya adalah penelitian terhadap posisi dan peran ulama/ kiai di Desa Gegesik Kecamatan Gegesik, Kab. Cirebon. dalam proses perubahan sosial keagamaan masyarakat Gegesik Kecamatan Gegesik, Kab. Cirebon. Karena permasalahannya berkaitan dengan masalah empirik, supaya dapat memperoleh data-data faktual, akurat, sistematik dan relevan dengan sumber kajian dan pembahasan yang dapat menunjukkan fakta yang berhubungan realistik. Langkah-langkah penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:
1. Menetapkan Sumber Data
a. Sumber data primer, yaitu data yang diperoleh dari buku-buku yang berkaitan dengan pokok pembahasan.
b. Sumber data sekunder ke II, yaitu data yang diperoleh dari literature ( buku-buku ), majalah dan referensi lainnya yang ada relevansinya dengan penelitian.
2. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang penulis pergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi, yaitu cara memperoleh data dengan pengamatan langsung terhadap obyek penelitian, untuk mencatat apa yang dilihat dan didengar tentang hal-hal yang berhubungan dengan posisi dan peran ulama/ kiai di lingkungan masyarakat Tegal Gubug
b. Wawancara, yaitu cara memperoleh data dengan mengadakan tanya jawab kepada tokoh masyarakat juga masyarakat setempat berkaitan dengan masalah yang penulis teliti. Penulis mengadakan wawancara langsung dengan beberapa pengurus dan masyarakat untuk mendapatkan informasi tentang aktifitas yang berhubungan dengan dakwah.
c. Angket, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara tertulis. Bentuk angket ini merupakan sejumlah pertanyaan yang harus dijawab secara tertulis oleh responden. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk tertutup yaitu pertanyaan dirumuskan lengkap, responden cukup membubuhi tanda check list (V) pada kolom yang telah disediakan.
3. Populasi dan Sampel
a. Populasi adalah keseluruhan objek penelitian, sebagian dari kualitas hasil dari penelitian bergantung pada teknik pengumpulan data yang digunakan. Diantara langkah penting dalam penelitian adalah penetapan dan penarikan sampel. Bagian yang diamati disebut sebagai sampel, sedangkan kumpulan objek penelitian disebut populasi ( Rahmat, 1986:106 ). Dalam hal ini yang menjadi populasi adalah santri Al-Muhajirin dan masyarakat gegesik, yakni berjumlah 50 orang.
b. Sampel adalah sebagian jumlah dari populasi. Diantara langkah penelitian ilmiah adalah penetapan dan penarikan sampel. Bagian yang diamati disebut sampel, sedangkan kumpulan objek penelitian disebut populasi (Rahmat,1985:106 ). Sampel dalam penelitian ini adalah 50 orang atau 10% dari jumlah populasi yakni penulis menggunakan acak random, sebagaimana pendapat Suharsimi Arikunto ( 1993:107 ) menyatakan : “untuk sekedar perkiraan, maka apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya besar dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih.
4. Analisa Data
Dalam teknik analisis data ini digunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, yaitu teknik pengolahan data dengan menggunakan analisis rasio, sedangkan pendekatan kuantitatif di analisis dengan pendekatan statistik dan menggunakan rumus sebagai berikut:
P = F/N X 100 %
Keterangan:
P : Hasil produksi
F : Frekuensi alternatif jawaban
N : Jumlah responden
100 % : Jawaban (Muh. Ali 1989:78)
Untuk menafsirkan data prosentase yang di dapat, penulis menggunakan pedoman yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (1989:196), yang mengatakan bahwa: Kriteria baik (79%-100%), cukup baik (56%-75%), kurang baik (40%-55%), dan tidak baik (kurang dari 40%).
Sedangkan untuk menentukan bahwa data itu baik, cukup baik, kurang baik, dan tidak baik, dapat di simpulkan dengan mengambil jumlah prosentase dari alternatif jawaban item “A”, sedangkan untuk kesimpulan terakhir di ambil dari rata-rata prosentase.

Pengaruh Strategi Quantum Quotient Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar PAI Siswa Di SMKN 1 Majalengka

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Pendidikan merupakan cerita atau jalan untuk mengembangkan dan mengarahkan dirinya menjadi sosok manusia yang memiliki kepribadian yang utama dan sempurna. Dengan pendidikan, manusia dapat mengembangkan kepribadian baik jasmani maupun rohani ke arah yang lebih baik dalam kehidupannya, sehingga semakin maju suatu masyarakat maka akan semakin penting pula adanya pendidikan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. (Fuad Hasan, 1991:2). Bersamaan dengan itu Islam memandang pendidikan sebagai dasar utama seseorang diutamakan dan dimuliakan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur'an Surat al-Mujadalah ayat 11, berikut ini yang Artinya : “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu sekalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.2 (QS, al-Mujadalah : 11).
Dalam pelaksanaan pendidikan pemerintah telah mengupayakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran Nasional yang diatur dalam undangundang. Untuk itu pemerintah memberikan hak pada warganya untuk mendapatkan pengajaran dan pendidikan ini dimulai dari lingkungan keluarga sebagai Lembaga pendidikan, kemudian pendidikan di lingkungan masyarakat sebagai pendidikan nonformal, oleh karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. (Abu Ahmadi, 1991:59).
Dalam keseluruhan proses pendidikan (dalam hal itu di Sekolah atau Madrasah), kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok, ini berarti berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid sebagai anak didik.(Abu Ahmadi, Widodo Supriyono, 1991:14).
Istilah belajar sebenarnya telah lama dikenal oleh manusia, sejak manusia ada sebenarnya mereka telah melakukan ahtifitas belajar, oleh karena itu kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kegiatan belajar itu ada sejak adanya manusia. (Ali Imron, 1996:2).
Belajar merupakan suatu proses perubahan di dalam tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya di dalam memenuhi kehidupannya. Ahtifitas belajar bagi kegiatan individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar, terkadang lancar dan terkadang tidak, terkadang dapat menangkap dengan cepat apa yang dipelajarinya, terkadang amat sulit, demikian antara lain kenyataan yang kita jumpai pada anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan ahtifitas belajar.
Setiap individu memang tidak ada yang sama, perbedaan individual ini pula yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan anak didik. Dalam keadaan di mana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Sehubungan dengan ini, bahwa pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi umat manusia, sebagaimana perkembangan dan perwujudan diri bagi pembangunan Bangsa dan Negara serta Agama. Yang mana pendidikan dapat diperoleh secara formal (Sekolah) maupun nonformal (luar Sekolah). Di dalam lingkungan Sekolah terdapat bidang studi pendidikan Agama Islam yang bertujuan :
“Untuk meningkatkan keimanan, penghayatan, pemahaman dan pengamalan siswa tentang Agama Islam menjadi manusia Muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta berahklak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat berbangsa dan bernegara, serta untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih baik”. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995:13).
Di samping itu pendidikan Sekolah bertujuan untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang positif (tingkah laku dan sikap) dalam diri murid yang sudah berkembang menuju kedewasaan. (WS. Winkel, S.J. M. Sc, 1991:10). Sehingga anak didik dapat mewujudkan dirinya dan dapat berfungsi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat.(S.C. Utami Munandar, 2002:6).
Maka profil seorang pendidik sebagai personil yang menduduki posisi strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia dituntut untuk terus mengikuti perkembangan konsep-konsep baru dalam dunia pengajaran. Guna mencapai dunia pendidikan itu sendiri, dalam hal ini tentunya diperlukan suatu cara atau alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang dimaksud yaitu strategi belajar.
Strategi Quantum Quotient atau kecerdasan Quantum (QQ) adalah kecerdasan manusia yang mampu mengoptimalkan seluruh potensi diri secara seimbang, sinergi dan komprehensif meliputi kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Intelektual berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan pemikiran rasional, logis dan matematis. Emosional berkaitan dengan emosi pribadi dan antar pribadi guna efektifitas individu dan organisasi, sedangkan spiritual berkaitan dengan segala sesuatu yang melampaui intelektual dan emosional, karakteristik utama QQ adalah terbuka kepada ide-ide baru atau hanif, dan senantiasa bergerak maju sepanjang spiral ke atas menuju kesempurnaan.(IR. Agus Nggermanto, 2005:151).
Langkah awal Quantum Quotient adalah mengembangkan kecerdasan intelektual yang meliputi pengenalan potensi otak manusia yang sangat besar yakni 100 milyard sel ahtif sejak lahir, serta mengembangkan otak kiri yang berpikir urut, Persial dan logis dengan otak kanan yang berpikir acak, holistik dan kreatif. Kemudian mengahtifkan otak reptil, instinctive, lapisan manusia feeling, dan lapisan Neo-cortex, berpikir tingkat tinggi, otak sadar dan di bawah sadar juga merupakan bagian penting untuk optimalisasi intelektual.
Berikutnya melangkah kemulti Intellegence yang meliputi IQ, EQ, SQ Accelered learning disarankan untuk mengembangkan IQ, mengenali emosi kemudian mengelolahnya secara kreatif untuk meningkatkan EQ, refleksi trasendensi dan realisasi adalah langkah utama mengasah otak SQ. Dimensi spiritual adalah pusat QQ, pusat diri kita untuk perenungan pemaknaan, dan momen transendensi dibiasakan sebagai ahtifitas harian.
Dalam pendidikan Islam, strategi ini sangat erat hubungannya dalam rangka meningkatkan prestasi siswa, sebab anak bisa cepat tanggap terhadap meteri yang disampaikan karena anak lebih mudah menyerap atau mengingat kembali memori ingatan yang telah lalu serta mempertahankannya. Sehubungan dengan hal ini, peningkatan kreatifitas siswa dapat diperhatikan, baik peningkatan kemampuan berpikir maupun kemampuan menyerap atau mengingat ciri-ciri kepribadian yang kreatif, mengingat perkembangan yang optimal dari prestasi berhubungan cara mengajar. Dalam suasana non otoriter, ketika belajar atas prakasa sendiri dapat dikembangkan, karena guru menaruh kepercayaan terhadap kemampuan anak untuk berpikir dan berani mengungkapkan gagasan baru dan ketika anak diberi kesempatan sesuai minat dan kebutuhannya, dalam hal ini kreatifitas siswa dapat berkembang dengan baik.
Oleh sebab itu menjadi guru yang kreatif, profesional dan menyenangkan dituntut untuk memiliki kemampuan mengembangkan pendekatan dan memilih metode belajar yang efektif, hal ini penting terutama untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif dan menyenangkan, cara guru melakukan suatu kegiatan belajar memerlukan pendekatan dan strategi yang berbeda dengan belajar yang lainnya. Oleh karena itu belajar sangat penting dalam melaksanakan penerapan pemecahan masalah dengan menggunakan strategi Quantum Quotient atau kecerdasan Quantum, maka penulis mengadakan penelitian dengan judul : “Pengaruh Strategi Quantum Quotient Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar PAI Siswa Di SMKN 1 Majalengka”.

B. Rumusan Masalah.
Berdasarkan variabel penelitian ini perlu diterangkan dalam suatu rumusan yang jelas guna memberikan arahan terhadap pembahasan selanjutnya. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana penerapan strategi belajar Quantum Quotient di SMKN 1 Majalengka ?.
2. Bagaimana prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI Kelas VIII di SMKN 1 Majalengka ?.
3. Apakah ada pengaruh strategi belajar Quantum Quotient (QQ) dalam meningkatkan prestasi PAI siswa di SMKN 1 Majalengka?



C. Tujuan Penelitian.
Tujuan Penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui penerapan strategi belajar Quantum Quotient (QQ) siswa Kelas X di SMKN 1 Majalengka.
2. Untuk mengetahui prestasi siswa Kelas X di SMKN 1 Majalengka.
3. Untuk mengetahui ada tidaknya signifikansi strategi belajar Quantum Quotient (QQ) dalam meningkatkan pretasi siswa pada mata pelajaran PAI Kelas X di SMKN 1 Majalengka

D. Hipotesa Penelitian.
Hipotesa adalah yang mungkin benar atau mungkin salah, maka penelitian tersebut akan ditolak jika salah dan diterima jika benar. Adapun hipotesa yang penulis gunakan adalah :
1. Hipotesa kerja (Ha).
Yaitu hipotesa alternatif yang menyatakan adanya hubungan antara independent variabel dengan dependen variabel yaitu : Pengaruh strategi Quantum Quotient (QQ) dalam meningkatkan prestasi belajar PAI siswa di SMKN 1 Majalengka.
2. Hipotesa nihil (Ho).
Hipotesa nihil yaitu hipotesa yang menyatakan adanya persamaan atau tidak adanya perbedaan antara kedua variabel yaitu : tidak ada pengaruh strategi Quantum Quotient (QQ) dalam meningkatkan prestasi belajar PAI siswa di SMKN 1 Majalengka.

E. Definisi Operasional.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang judul skripsi ini yakni, “Pengaruh Strategi Quantum Quotient (QQ) Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) Siswa Di SMKN 1 Majalengka. Maka lebih dahulu akan dijelaskan beberapa pengertian atau arti dari istilah-istilah yang terdapat pada judul di atas.
 Pengaruh
 Strategi Quantum Quotient
 Meningkatkan prestasi
 SMKN 1 Majalengka:
Daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu (orang, benda) yang berkuasa atau berkekuatan.(Muhammad Nur, 1999:38)
Adalah cara atau hasil usaha yang dihasilkan dalam mengorganisasikan sesuatu berdasarkan yang perlu dikembangkan dan meliputi tiga perkembangan yakni, intelektual, emosional, intelektual dan spiritual.(IR. Agus Nggermanto2005:22). Intelektual berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan pemikiran rasional, logis dan matematis, emosional berkaitan dengan emosi pribadi dan antar pribadi guna efektifitas individu dan organisasi, sedangkan spiritual berkaitan dengan segala sesuatu yang melampaui intelektual dan emosional.(Wjs. Poerwadarminto1976:1078). Adalah suatu hasil yang diperoleh berupa kesankesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari ahtivitas belajar mengajar. Sebuah Lembaga pendidikan Sekolah Menengah Pertama yang berada dalam naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang berada di Majalengka. Berdasarkan batasan makna yang terdapat pada definisi operasional di atas, bahwa pengaruh strategi Quantum Quotient dalam meningkatkan prestasi belajar PAI siswa di SMKN 1 Majalengka tersebut dapat diketahui dengan melibatkan hasil belajar siswa yang diperoleh dari pretest dan post-test, dalam belajar tersebut. Adapun kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya adalah yang meliputi hasil belajar, kognitif, afektif dan psikomotorik. Dan pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar setelah selesai pendidikannya dapat mengalami dan mengamalkan ajaran Agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup. (Zakiyah Darojat, Ilmu Pendidikan Islam, 1992:86)

F. Metode Penelitian.
Dilihat dari judul penelitian, yakni pengaruh strategi Quantum Quotient dalam meningkatkan prestasi belajar PAI siswa kelas X di SMKN 1 Majalengka, maka penelitian yang digunakan di sini adalah jenis penelitian kuantitatif, yaitu pendekatan ini berangkat dari suatu teori, gagasan para ahli ataupun dikembangkan menjadi permasalahan dan beserta pemecahanpemecahannya yang diajukan untuk memperoleh kebenaran dalam bentuk dukungan data empiris lapangan dan juga memerlukan analisis statistik, yaitu dengan menggunakan angka-angka untuk mencapai kebenaran hipotesis. Angkaangka di sini mempunyai peran sangat penting dalam pembuatan, penggunaan dan pemecahan masalah model kualitatif.(M. Muchlis, 1993: 4) Meskipun jenis penelitian ini kuantitatif namun tidak manafikan data kualitatif sebagai pendukung data.
1. Identifikasi variabel.
Variabel adalah objek yang menjadi titik perhatian saat penelitian, penelitian ada dua variabel pertama, adalah anak yang ikut dalam sebuah penelitian ilmiah sangat penting untuk menentukan objek penelitian, yang selanjutnya dapat diperoleh data yang benar dan akurat berdasarkan masalah di atas, yaitu, “Pengaruh strategi Quantum Quotient dalam meningkatkan prestasi belajar pendidikan Agama Islam (PAI) siswa di SMKN 1 Majalengka, ditentukan dua variabel yaitu :
a. Variabel bebas (independen variabel).
Adalah yaitu merupakan variabel tinggal sendiri yang tidak dipengaruhi variabel lain, dalam penulisan ini, penelitian menjadikan penerapan strategi Quantum Quotient, sebagai variabel bebas yang diberi (simbol) X. Adapun indikator variabel X sebagai berikut:
1) Teknik-teknik dalam Quantum Quotient.
2) Langkah-langkah penggunaan Quantum Quotient.
b. Variabel terikat (dependen variabel).
Adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikat prestasi belajar PAI. Adapun indikator variabel Y sebagai berikut:
1) Prestasi belajar mengajar.
2) Nilai hafalan.
3) Nilai praktek.
4) Nilai ulangan.
5) Nilai Semester (raport).
2. Populasi.
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada di wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi, penelitian populasi dilakukan apabila peneliti ingin melihat semua liku-liku yang ada di dalam populasi. Metode penarikan/pengambilan data yang melibatkan seluruh anggota populasi disebut sensus. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah kelas X terdiri atas 3 kelas, yaitu :
1) Kelas X A : 40 siswa.
2) Kelas X B : 40 siswa.
3) Kelas X C : 40 siswa.
3. Sampel.
Sampel adalah sebagian sebagian dari populasi terjangkau yang memiliki sifat yang sama dengan populasi. menurut Suharsimi Arikunto, sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. (Suharsimi Arikunto, 2002:9).
Mengingat begitu besar dan luasnya populasi dalam penelitian ini, maka kurang memungkinkan jika melakukan pada penelitian populasi secara keseluruhan, oleh karena itu untuk mendapatkan hasil yang memuaskan maka peneliti menggunakan sampel, yakni mengambil sebagian dari populasi, populasi dalam penelitian ini bersifat homogen, yakni sama dari kelas X di SMKN 1 Majalengka. Yakni cara mengambil sampel dari populasi dengan memberikan kesempatan yang sama bagi anggota populasi untuk terpilih menjadi anggota sampel. Cara mengambil sampel dari sampling random random ini ada 3 cara yakni : undian, ordinal, dan tabel bilangan random. Tapi karena sempitnya waktu peneliti memakai cara undian, pada pengambilan dengan cara undian ini, peniti menggunakan dasar pemikiran sebagaimana yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto, populasi lebih dari 100 dapat diambil sampel antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih.(Arikunto Suharsimi, 1997:10), oleh karenanya dalam penelitian ini, peneliti mengambil 15 % dari sampel yang ada, yakni 40 responden.
4. Jenis data dan sumber data.
a. Jenis Data.
Data adalah kumpulan hasil pengukuran terhadap variabel yang berisi informasi tentang karakteristik variabel. (Suprapto, 1999:72).Menurut sifatnya data digolongkan menjadi dua yaitu :
1). Data kuantitatif.
Adalah data yang berbentuk angka. (Suprapto1999: 75) Dalam penelitian ini yang termasuk data kuantitatif adalah :
a) Jumlah siswa.
b) Jumlah tenaga edukatif dan karyawan.
c) Hasil angket
d) Dan sebagainya yang bersangkutan dengan kuantitatif.
2). Data kualitatif.
Data yang tidak berbentuk angka. (Merdalis, 1989:89).Data ini bisa disusun dan langsung ditafsirkan untuk menyusun kesimpulan penelitian. Dalam penelitian ini termasuk data kualitatif adalah gambaran umum sekolah.

b. Sumber Data.
1) Library research (penelitian Perpustakaan) yaitu meliputi kepustakaan yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dibahas, metode ini digunakan dalam kaitannya buku-buku atau teori-teori pembahasan yang berhubungan dengan referensi strategi Quantum Quotient (QQ).
2) Field research (penelitian lapangan) dalam bab ini penulis mengadakan penelitian serta pengamatan langsung kepada objek yang dimaksud pada tempat penelitian dalam rangkaian memperoleh data kongkrit tentang masalah yang diselidiki. Data field research ini meliputi informasi dan responden, yaitu :
a) Informasi, yaitu meliputi kepala Sekolah, guru PAI, siswa, tata usaha, dan lain-lain.
b) Responden meliputi siswa-siswa yang dijadikan sampel.
5. Metode pengumpulan data.
a. Metode observasi.
Adalah tehnik pengumpulan data yang cara mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang diamati. Metode ini digunakan untuk mendapatkan tentang data pelaksanaan strategi Quantum Quotient di kelas X SMKN 1 Majalengka.
b. Metode angket.
Angket adalah sebuah metode di mana di dalamnya sebuah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui, sedangkan dalam hal metode angket ini, penulis menggunakan angket secara langsung dengan tipe tertutup. Responden tinggal memilih jawaban yang tersedia dengan membutuhkan tanda silang (x) sesuai dengan keadaan yang diketahui. Metode ini bertujuan untuk mengidentifikasi respon atau komentar siswa terhadap kegiatan strategi Quantum Quotient dalam belajar PAI.
c. Metode dokumentasi.
Adalah metode dalam pengumpulan data dengan cara mencatat dokumen-dokumen atau catatan-catatan, metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang siswa, guru, nilai raport/ulangan siswa, karyawan yang berhubungan dengan objek penelitian.
d. Metode tes.
Adalah seperangkat rangsangan yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka. Metode ini digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh strategi Quantum Quotient terhadap keberhasilan belajar PAI. Data tes diperoleh dari pretes dan post-test selanjutnya dari hasil tersebut dianalisis dengan menggunakan metode statistika.
e. Tehnik analisa data.
Tehnik analisa data adalah tehnik yang digunakan menganalisa yang diperoleh dari hasil penelitian. Data yang sudah terkumpul kemudian diolah yakni dianalisis diinterpretasikan dan disimpulkan. Tehnik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tehnik analisa data statistik. Analisis statistik adalah dalam menganalisis suatu data menggunakan dasar tehnik dan tata kerja statistik, sedangkan non statistik adalah analisis data dengan menggunakan metode kualitatif, kemudian untuk mengetahui bagaimana penerapan strategi Quantum Quotient (QQ) pada mata pelajaran PAI.

G. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah dan memahami penulisan skripsi ini, maka penulis membuat suatu sistem pembahasan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesis penelitian, definisi operasional, metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II : Landasan teori yang menguraikan tentang strategi Quantum Quotient, tehnik-tehnik Quantum Quotient, langkah-langkah penggunaan setrategi Quantum Quotient, pemanfaatan setrategi Quantum Quotient,
BAB III: selanjutnya tentang prestasi belajar yang di dalamnya membahasa tentang, pengertian hasil belajar, jenis prestasi, kriteria prestasi, evaluasi serta faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa.
BAB IV:Laporan hasil penelitian yang di dalamnya membahas tentang gambaran umum objek penelitian di dalamnya membahas tentang : struktur organisasi sekolah, keadaan guru, karyawan dan murid, sarana dan prasarana, penyajian data dan analisis data yang di
dalamnya membahas tentang hasil analisis penerapan, pendekatan strategi Quantum Quotient, serta analisis data kuantitatif tentang prestasi siswa yang kemudian diakhiri tentang hasil analisis tentang pengaruh setrategi Quantum Quotient dalam meningkatka prestasi siswa Kelas X di SMKN 1 Majalengka.
BAB V :Penutup yang berisikan tentang kesimpulan dan saran sebagai saran.
DAFTAR PUSTAKA

 Fuad Hasan, 1991, Dasar-Dasar Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta..
 Abu Ahmadi, 1991, Ilmu Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
 Ali Imron, 1996, Belajar Dan Pembelajaran, Jakarta: Pustaka Jaya.
 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995, Petunjuk Tehnik Mata Kuliah PAI, Jakarta: TP
 WS. Winkel, S.J. M. Sc, 1991, Psikologi Pengajaran, Jogiakarta: Media Abadi.
 S.C. Utami Munandar, 2002, Pengembangan Anak Kreatif Anak Berbakat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
 IR. Agus Nggermanto, 2005, Quantum Quatient (QQ) Kecerdasan Quantum, Bandung: Nuansa.
 Wjs. Poerwadarminto, 1976, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
 Zakiyah Darojat, 1992, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
 M. Muchlis, 1993, Metode Kuantitatif, Jakarta: Fak. Ekonomi UI.
 Suharsimi Arikunto, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakhtek, Jakarta: Rineka Cipta.
 Suprapto, 1999, Metodologi Riset Dan Aplikasi Dalam Pemasaran, Jakarta: Rineka Cipta.
 Merdalis, 1989, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta: Bumi Aksara.

Ahmadi Abu, ct, al, 1991, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta).
Ahmadi Abu, Widodo Supriyono, 1991, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta).
Arifin M, 1993, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara).
Arifin Zainal, 1991, Evaluasi Instruksioanl Prinsip -Teknik-Prosedur, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya).
Arikunto Suharsimi, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakhtek, (Jakarta:
Rineka Cipta).
Darojat Zakiyah, 1992, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara).
Depdiknas, 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka).
Departemen Agama RI, 1989, al-Qur'an dan Terjemahannya, (Semarang: CV. Toha
Putra).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995, Petunjuk Tehnik Mata Kuliah PAI,
(Jakarta: TP).
Djamarah Saiful Bahri, 1994, Prestasi Belajar Dan Kompetensi Guru, (Surabaya:
Usaha Nasional).
Gpttman John, 1998, Kecerdasan Emosional : Kiat-Kiat Membesarkan Anak Yang
Memiliki Kecerdasan Emosional, (Jakarta: Gramedia).
Goleman Daniel, 2000, Kecerdasan Emosional, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama).
Hasan Fuad, 1991, Dasar-Dasar Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta).
Higbee Kenneth L, 2003, Your Memory, (Semarang: Dahara Prize).
Ihsani Hamdani dan Fuad Hasan, 2001, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung:
Pustaka Setia).
127
Imron Ali, 1996, Belajar Dan Pembelajaran, (Jakarta: Pustaka Jaya).
Maja Hidayat Nafaat, 2001, Intelegensi Spritual, (Parenial Press).
Markowith Karen, Eric Jensen, 2002, Otak Sejuta Bigabyte, (Bandung: Kaita).
Merdalis, 1989, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi
Aksara).
Muchlis M, 1993, Metode Kuantitatif, (Jakarta: Fak. Ekonomi UI).
Munandar Utami S.C, 2002, Pengembangan Anak Kreatif Anak Berbakat, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama).
Nggermanto Agus IR, 2005, Quantum Quatient (QQ) Kecerdasan Quantum,
(Bandung: Nuansa).
Nicholl Colin Rose Malcolm S, 2003, Accelered Learning, (Bandung: Penerbit
Nuansa).
Poerwadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: DN, Balai Pustaka
1987).
Purwanto Ngalim, 1990, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya).
Poerwadarminto Wjs, 1976, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka).
Rose Colin, 2002, Kuasai Lebih Cepat, (Bandung: Kaifa).
Shihab Quraish, 1997, Tafsir al-Qur'an al-Karim, (Pustaka Hidayah).
Stine Jean Marie, 1997, Mengoptimalkan Daya Pikir, (Jakarta: Pustaka Delapratasa).
Sudjana Nana, 1990, Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya).
Syah Muhibbin, 2004, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada).
Syah Muhibbin dkk, 1996, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: Citra Media Karya
Anak Bangsa).
Sudjana Nana, 1993, Pengantar Statistik, (Jakarta: Bumi Aksara).
Tirtonegoro Sutratina, 1984, Anak Supernormal dan Program Pendidikan, (Jakarta:
Bumi Aksara).
Usman Uzer Moh, Lilis Setiawati, 1995, Upaya optimalisasi Belajar Mengajar,
(Bandung: Remaja Rosdakarya).
Winkel, 1987, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Gramedia).
Winkel WS, S.J. M, 1991, Psikologi Pengajaran, (Jogiakarta: Media Abadi).
DAFTAR PUSTAKA

 Fuad Hasan, 1991, Dasar-Dasar Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta..
 Abu Ahmadi, 1991, Ilmu Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
 Ali Imron, 1996, Belajar Dan Pembelajaran, Jakarta: Pustaka Jaya.
 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995, Petunjuk Tehnik Mata Kuliah PAI, Jakarta: TP
 WS. Winkel, S.J. M. Sc, 1991, Psikologi Pengajaran, Jogiakarta: Media Abadi.
 S.C. Utami Munandar, 2002, Pengembangan Anak Kreatif Anak Berbakat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
 IR. Agus Nggermanto, 2005, Quantum Quatient (QQ) Kecerdasan Quantum, Bandung: Nuansa.
 Wjs. Poerwadarminto, 1976, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
 Zakiyah Darojat, 1992, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
 M. Muchlis, 1993, Metode Kuantitatif, Jakarta: Fak. Ekonomi UI.
 Suharsimi Arikunto, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakhtek, Jakarta: Rineka Cipta.
 Suprapto, 1999, Metodologi Riset Dan Aplikasi Dalam Pemasaran, Jakarta: Rineka Cipta.
 Merdalis, 1989, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta: Bumi Aksara.

UPAYA MENINGKATKAN KESEGARAN JASMANI MELALUI PENDEKATAN BERMAIN DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI

MAKALAH PTK
(Penelitian Tindakan Kelas)



DENGAN JUDUL:

UPAYA MENINGKATKAN KESEGARAN JASMANI MELALUI PENDEKATAN BERMAIN DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI










0leh:
Hisyam nur
Fasilitator Pendidikan Olah Raga
SD Dwiguna Kota MAjalengka



Sekolah Dasar
SD DWIGUNA KOTA MAjalengka
Jl. H. Dul No. 30 Pondokterong Kota Majalengka


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………....i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………….ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Identifikasi Masalah 3
C. Batasan Masalah 3
D. Rumusan Masalah 3
E. Tujuan Penelitian 4
F. Manfaat Hasil Penelitian 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
A. Landasan Teori 5
B. Kerangkah Berfikir 10
C. Hipotesis 10
BAB III MODEL PENELITIAN 11
A. Metode 11
B. Seting dan Karakteristik Siswa 11
C. Prosedur Penilaian 12
BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN 15
A. Pelaksanaan 15
B. Hasil Penelitian 16
BAB V PENUTUP 19
A. Kesimpulan 19
B. Saran-saran 19
DAFTAR PUSTAKA





DATA PENELITI


1. Nama(lengkap dengan gelar akademi)
2. Jenis Kelamin
3. Tempat / tanggal lahir
4. Pendidikan terakhir
5. Sekolah tempat tugas
1) Nama
2) Alamat Sekolah
3) Kecamatan
4) Kabupaten/Kota
5) Provinsi
6) No. Telpon.Sekolah
7) Alamat e-mail
8) Web-site
9) Nomor Statistik Sekolah
6. e-mail
7. Mata Pelajaran
8. Tugas Tambahan :
:
:
:

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:


Mengetahui,
Kepala SMK Dwiguna Kota Depok




Nurdin Budiyanto, M.Pd. Depok, 1 Oktober 2007
Peneliti




Ahmad Zaini, S.Ag.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuan tersebut. Tujuan pendidikan jasmani bukan hanya mengembangkan ranah jasmani, tetapi juga mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui kegiatan aktivitas jasmani dan olah raga.
Pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-spritual-dan sosial), serta pembiasan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang.
Pendidikan jasmani memiliki peran yang sangat penting dalam mengintensifkan penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain, dan berolahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah dan terencana. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina, sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat.
Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru harus dapat mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan / olahraga, internalisasi nilai-nilai (sportifitas, jujur kerjasama, dan lain-lain) dari pembiasaan pola hidup sehat. Pelaksanaannya bukan melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik mental, intelektual, emosional dan sosial. Aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan dikdakdik-metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Melalui pendidikan jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan, kreatif, inovatif, terampil, meningkatkan dan memeliharan kesegaran jasmani serta pemahaman terhadap gerak manusia.
Namun kenyataan di lapangan dalam masa transisi perubahan kurikulum dari kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004 yang semula pendidikan jasmani dan kesehatan dengan alokasi waktu 2 jam per minggu @ 40 menit, sekarang Pendidikan Jasmani dengan alokasi waktu 3 jam per minggu @ 40 menit, masih banyak kendala dalam menerapkan kurikulum tersebut. Hal ini disebabkan karena belum adanya sosialisasi secara menyeluruh di jajaran pendidikan sehingga masih banyak perbedaan penafsiran tentang pendidikan jasmani utamanya dalam pembagian waktu jam pelajaran.
Adanya ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani dalam kurikulum 2004 untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA MA sebenarnya sangat membantu pengajar pendidikan jasmani dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan siswa. Adapun ruang lingkup pendidikan jasmani meliputi aspek permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, uji diri / senam, aktivitas ritmik, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air) dan pendidikan luar kelas.
Sesuai dengan karakteristik siswa SD, usia 7-12 tahun mereka cenderung masih suka bermain. Untuk itu guru harus mampu mengembangkan pembelajaran yang efektif, disamping harus memahami dan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan siswa. Pada masa usia tersebut seluruh aspek perkembangan manusia baik itu kognitif, psikomotorik dan afektif mengalami perubahan. Perubahan yang paling mencolok adalah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikologis.
Agar standar kompetensi pembelajaran pendidikan jasmani dapat terlaksana sesuai dengan pedoman, maksud dan juga tujuan sebagaimana yang ada dalam kurikulum, maka guru pendidikan jasmani harus mampu membuat pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Untuk itu perlu adanya pendekatan, variasi maupun modifikasi dalam pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, penulis melakukan penelitian dengan judul Upaya Meningkatkan Kesegaran Jasmani melalui Pendekatan Bermain dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani Siswa Kelas ………..SDN …….. Tahun Pelajaran …….
B. Identifikasi Masalah
Dengan adanya kurikulum berbasis kompetensi yang merupakan pedoman bagi guru dan merupakan bahan kegiatan dalam pembelajaran, maka siswa perlu mempelajari dan melaksanakan untuk mencapai kompetensi yang sudah dirumuskan. Untuk mencapai standar kompetensi tersebut bukanlah yang mudah. Adapun permasalahan-permasalahan yang muncul dilapangan adalah sebagai berikut:
1. Banyak dikalangan pendidikan yang belum memahami tentang perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olah Raga.
2. Kurangnya pemahaman dari siswa tentang maksud dan tujuan pendidikan jasmani sehingga pada proses pembelajaran belum semua antusias untuk beraktivitas jasmani.
3. Kurangnya pemahaman tentang arti pentingnya tubuh bugar dan sehat, sehingga mereka mengikuti pendidikan jasmani hanya sekedar ikut dan memperoleh nilai.
C. Batasan Masalah
Penelitian ini memiliki beberapa batasan yang perlu dikembangkan agar substansi penelitian ini tidak melebar dan agar dapat kesepahaman penafsiran tentang substansi yang ada dalam penelitian ini. Batasan-batasan masalah tersebut adalah sebagaimana berikut ini:
1. Penelitian ini hanya menitikberatkan pada model pembelajaran dengan pendekatan bermain untuk meningkatkan kesegaran jasmani siswa.
2. Penelitian ini menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan bermain pada pendidikan jasmani dalam upaya meningkatkan tingkat kesegaran jasmani siswa.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah pembelajaran pendidikan jasmani dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain tingkat kesegaran jasmani siswa dapat meningkat?
2. Seberapa besar peningkatan tingkat kesegaran jasmani siswa setelah mengikuti model pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani ?
E. Tujuan Pendidikan
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah :
1. Mengetahui perbedaan tingkat kesegaran jasmani siswa yang diajar dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani.
2. Untuk mengetahui seberapa besar perbedaan tingkat kesegaran jasmani siswa yang diajar dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani.
F. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yaitu :
1. Guru
Untuk meningkatkan kualitas mengajar dan mencoba menerapkan model pembelajaran sebagai inovasi baru dalam proses pembelajaran dalam rangkah mencapai tujuan pendidikan yang telah direncanakan.
2. Siswa
Dengan banyaknya model pembelajaran mereka mendapatkan banyak variasi dalam pembelajaran. Selain itu siswa dapat belajar sambil bermain
3. Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan sekolah untuk mengembangkan model pembelajaran.


BAB II
TINJUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
Teori-teori tentang upaya meningkatkan kebugaran tubuh telah banyak dikemukakan oleh para pakar. Dalam hubungannya dengan penelitian ini, penulis mencoba menggunakan model pembelajaran beraktivitas jasmani sambil bermain. Aktivitas ini merupakan salah satu metode yang tepat dimana keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sekalipun sambil bermain mereka sudah melaksanakan kegiatan jasmani sebagai upaya untuk menjaga kebugaran tubuh. Hal ini sangat bagus untuk melatih kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif siswa.
Dari judul tersebut diatas dapat dikemukakan bahwa model pembelajaran dengan pendekatan bermain merupakan variabel bebas (independent variable), sedangkan tingkat kesegaran jasmani siswa sebagai variabel terikat (dependent variable).
1. Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif dan afektif setiap siswa. Pengalaman yang disajikan akan membantu siswa untuk memahami mengapa manusia bergerak dan bagaimana cara melakukan gerakan secara aman, efisien, dan efektif. (Kurikulum Penjas SD, 2004).
Dari banyak pendapat tentang pengertian pendidikan jasmani, dapat disimpulkan pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik diarahkan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan emosional dalam kerangka sistem pendidikan nasional. (Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi SD, 2004).
2. Materi Pendidikan Jasmani SD/MI
Struktur materi pendidikan jasmani dikembangkan dan disusun dengan menggunakan model kurikulum kebugaran jasmani dan pendidikan olahraga (Jewwet, Ennis, and Bain, 1995). Asumsi yang digunakan oleh kedua model ini adalah untuk menciptakan gaya hidup sehat dan aktif, manusia perlu memahami hakikat kebugaran jasmani dengan menggunakan resep latihan yang benar.
Materi mata pelajaran pendidikan jasman SD/MI meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Pengalaman mempraktikkan latihan untuk mempertahankan dan meningkatkan kebugaran jasmani
b. Pengalaman mempraktikkan keterampilan dasar atletik, senam, permainan dan beladiri
c. Keterampilan memelihara dan meningkatkan kebugaran jasmani, pengetahuan hakikat kebugaran jasmani, serta pengetahuan praktis latihan kebugaran jasmani
d. Penerapan peraturan, dan praktik yang aman dalam pelaksanaan kegiatan atletik, senam, permainan dan beladiri
Materi pendidikan jasmani SD/MI merupakan Sekolah Dasar, dan dilanjutkan di SMP dan SMA. Mater pembelajaran untuk kelas ……. meliputi keterampilan dasar olahraga, kesegaran jasmani, dan pembentukan sikap dan perilaku untuk membentuk kecakapan hidup personal.
3. Karakteristik Pendidikan Jasmani.
Pendidikan Jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di SD/MI, yang mempelajari dan mengkaji gerak manusia secara interdisipliner. Gerak manusia adalah aktivitas jasmani yang dilakukan secara sadar untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan keterampilan motorik, mengembangkan sikap dan perilaku agar terbentuk gaya hidup yang aktif. Aktivitas jasmani yang dilakukan berupa aktivitas bermain, permainan, dan olahraga.

4. Karakteristik Siswa SD/MI
Sebagai seorang guru, sangat perlu memahami perkembangan peserta didik. Perkembangan peserta didik tersebut meliputi: perkembangan fisik, perkembangan sosioemosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual. Perkembangan fisik dan perkembangan sosio sosial mempunyai kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental atau perkembangan kognitif siswa.
Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik di atas, sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang akan dilaksanakan. Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan.
1. Perkembangan Fisik Anak/Siswa
Anak masuk kelas satu SD atau MI berada dalam periode peralihan dari pertumbuhan cepat masa anak anak awal ke suatu fase perkembangan yang lebih lambat. Ukuran tubuh anak relatif kecil perubahannya selama tahun tahun di SD. Pada usia 9 tahun tinggi dan berat badan anak laki laki dan perempuan kurang lebih sama. Sebelum usia 9 tahun anak perempuan relatif sedikit lebih pendek dan lebih langsing dari anak laki laki.
Pada akhir kelas empat, pada umumnya anak perempuan mulai mengalami masa lonjakan pertumbuhan. Lengan dan kaki mulai tumbuh cepat. Pada akhir kelas lima, umumnya anak perempuan lebih tinggi, lebih berat dan lebih kuat daripada anak laki laki. Anak laki laki memulai lonjakan pertumbuhan pada usia sekitar 11 tahun. Menjelang awal kelas enam, kebanyakan anak perempuan mendekati puncak tertinggi pertumbuhan mereka


2. Perkembangan Sosio emosional Anak/Siswa
Menjelang masuk SD, anak telah rnengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengaruh sosial yang lebih kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada dasarnya egosentris (berpusat pada diri sendiri), dan dunia mereka adalah rumah keluarga, dan taman kanak kanaknya.
Selama duduk di kelas kecil SD, anak mulai percaya diri tetapi juga sering rendah diri. Pada tahap ini mereka mulai mencoba membuktikan bahwa mereka “dewasa”. Mereka merasa “saya dapat mengerjakan sendiri tugas itu, karenanya tahap ini disebut tahap ‘I can do it my self’. Mereka dimungkinkan untuk diberikan suatu tugas.
Daya konsentrasi anak tumbuh pada kelas kelas tinggi SD. Mereka dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk tugas tugas pilihan mereka, dan seringkali mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Tahap ini juga termasuk tumbuhnya tindakan mandiri, kerjasama dengan kelompok, dan bertindak menurut cara cara yang dapat diterima lingkungan mereka. Mereka juga mulai peduli pada permainan yang jujur. Selama masa ini mereka juga mulai menilai diri mereka sendiri dengan membandingkannya dengan orang lain. Anak anak yang lebih muda menggunakan perbandingan sosial (social comparison) terutama untuk norma norma sosial dan kesesuaian jenis jenis tingkah laku tertentu. Pada saat anak anak tumbuh semakin lanjut, mereka cenderung menggunakan perbandingan sosial untuk mengevaluasi dan menilai kemampuan kemampuan mereka sendiri.
Sebagai akibat dari perubahan struktur fisik dan kognitif mereka, anak pada kelas besar di SD berupaya untuk tampak lebih dewasa. Mereka ingin diperlakukan sebagai orang dewasa.Terjadi perubahan perubahan yang berarti dalam kehidupan sosial dan emosional mereka. Di kelas besar SD anak laki laki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam kelompok menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Tidak diterima dalam kelompok dapat membawa pada masalah emosional yang serius Teman teman mereka menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya sangat tinggi. Remaja sering berpakaian serupa. Mereka menyatakan kesetiakawanan mereka dengan anggota kelompok teman sebaya melalui pakaian atau perilaku.
Hubungan antara anak dan guru juga seringkali berubah. Pada saat di SD kelas rendah, anak dengan mudah menerima dan bergantung kepada guru. Di awal awal tahun kelas tinggi SD hubungan ini menjadi lebih kompleks. Ada siswa yang menceritakan informasi pribadi kepada guru, tetapi tidak mereka ceritakan kepada orang tua mereka. Beberapa anak pra remaja memilih guru mereka sebagai model. Sementara itu, ada beberapa anak membantah guru dengan cara cara yang tidak mereka bayangkan beberapa tahun sebelumnya. Malahan, beberapa anak mungkin
5. Model Pembelajaran dengan Pendekatan Bermain
Pendekatan bermain adalah salah satu bentuk dari sebuah pembelajaran jasmani yang dapat diberikan di segala jenjang pendidikan. Hanya saja, porsi dan bentuk pendekatan bermain yang akan diberikan, harus disesuaikan dengan aspek yang ada dalam kurikulum. Selain itu harus dipertimbangkan juga faktor usia, perkembangan fisik, dan jenjang pendidikan yang sedang dijalani oleh mereka.
Model pembelajaran dengan pendekatan bermain erat kaitannya dengan perkembangan imajinasi perilaku yang sedang bermain, karena melalui daya imajinasi, maka permainan yang akan berlangsung akan jauh lebih meriah. Oleh karena itu sebelum melakukan kegiatan, maka guru pendidikan jasmani, sebaiknya memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada siswanya majinasi tentang permainan yang akan dilakukannya.
6. Kesegaran Jasmani
Sadoso (1989 : 9) Kesegaran jasmani adalah keadaan atau kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas atau tugas-tugasnya sehari-hari dengan mudah tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan masih mempunyai siswa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya untuk keperluan-keperluan lainnya.
Komponen atau faktor kesegaran jasmani dan komponen kesegaran motorik merupakan satu kesatuan utuh dari komponen kondisi fisik. Agar seseorang dapat dikategorikan kondisi fisiknya baik, maka status komponen-komponennya harus berada dalam kondisi baik pula. Adapun komponen atau faktor jasmani adalah : kekuatan, daya tahan kelenturan.
B. Kerangka Berfikir
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan banyak sekali hal-hal yang dapat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang, salah satunya yaitu melalui aktifitas jasmani. Pendidikan jasmani dapat digunakan sebagai bentuk kegiatan siswa dalam upaya menjaga dan sekaligus meningkatkan tingkat kesegaran jasmani. Dengan mempertimbangkan karakter dan perkembangan siswa guru harus dapat merencanakan dengan matang proses pembelajaran. Dalam membuat perencanaan tersebut guru bisa menggunakan pendekatan, teknik, metode ataupun model pembelajaran.
C. Hipotesis
Dari uraian di atas hipotesis penelitiannya adalah melalui pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani tingkat kesegaran jasmani siswa dapat meningkat.











BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Dengan penelitian tindakan kelas peneliti dapat mencermati suatu obyek dalam hal ini siswa, menggunakan pendekatan atau model pembelajaran tertentu untuk meningkatkan tingkat kesegaran jasmani siswa. Melalui tindakan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu dalam bentuk rangkaian siklus kegiatan. Dengan demikian perkembangan dalam setiap kegiatan dapat terpantau
B. Setting dan Karakteristik Subyek
Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas ….. . SD Negeri …. yang berjumlah 32 orang. Kelas …. merupakan kelas rintisan Unggulan yang kalau dilihat dari kemampuan akademisnya mereka mempunyai rata-rata yang lebih baik dari pada kelas yang lain. Demikian juga bila dilihat dari perilaku dan kedisiplinannya mereka juga relatif lebih baik dari kelas yang lain. Namun demikian pada saat diadakan tes tingkat kesegaran jasmani dengan menggunakan tes lari 1,4 km, ternyata hasilnya justru paling rendah dibandingkan dengan kelas lain.
Disamping hasil tes tingkat kesegaran jasmaninya paling rendah, anak-anak dikelas tersebut pada saat mengikuti kegiatan dalam pembelajaran juga kurang antusias. Bahkan kadang-kadang ada sebagian dari mereka dalam mengikuti pembelajaran sambil membawa rangkuman ataupun catatan, yang kalau tidak ketahuan mereka sembunyi-sembunyi memanfaatkan waktunya untuk membaca. Mereka mengikuti pelajaran pendidikan jasmani hanya sekedar hadir dan nantinya mendapatkan nilai.



C. Prosedur penilaian
1. Siklus I
Dalam kegiatan siklus yang pertama penulis melaksanakan kegiatan yang menarik dan menyenangkan yaitu kegiatan olahraga tradisional.
a. Pemanasan
Dalam kegiatan pemanasan kita buat dalam bentuk-bentuk permainan yang menyenangkan. Misalnya : berlari kecil berkelompok sambil memegang bahu sambil bernyanyi bersama, berlari sambil berpegangan tangan dengan bervariasi dari arah kanan ke arah kir bergantian, berlari kecil sambil meloncat dilakukan berpasangan berdua atau bertiga, bahkan dapat dilakukan dengan kelompok yang lebih banyak asalkan jumlahnya ganjil, satu orang berada diantara kelompok sebagai pusat pegangan dan masih banyak lagi bentuk kegiatan pemanasan sambil bermain.
b. Kegiatan inti
Dalam kegiatan ini dilaksanakan kegiatan out door games. Bentuk kegiatan out door games yang pertama dilaksanakan bentuk kegiatan yang berorientasi pada melatih kekuatan, kelincahan, kelenturan tubuh disamping juga melatih unsur kognitif dan afektif siswa. Sebenarnya banyak sekali jenis out door games yang dapat dilaksanakan dalam pendidikan jasmani, namun dalam siklus I penulis melaksanakan kegiatan bentengan.
Permainan ini berasal dari permainan anak-anak yang awalnya mempergunakan pohon atau tiang sebagai sarana bentengnya. Supaya ada bentuk variasi lain maka kita kembangkan jenis permainan ini dengan media lain. Prasarana : berupa lapangan seluas lapangan basket. Sarana : bekas botol plastik, bekas tempat bola tenis, dengna jumlah5 sampai 10 buah, sebagai benteng yang harus direbut dan dilarikan dari daerah musuh. Cara bermainnya sama dengan permainan bentengan lainnya, hanya saja pada bentengan ini yang diperebutkan adalah bekas tempat bola tenis, atau botol bekas minuman. Langkah pertama peserta dibagi dua team dengan jumlah sama banyak. Benteng yang terbuat dari botol, atau gelas plastik berada dibelakang team masing-masing. Tiap team dibagi dalam 3 kelompok masing-masing sebagai team penyerang, pengecoh lawan dan yang mempertahankan benteng. Team pemenang adalah team yang berhasil lebih dahulu merebut seluruh benteng lawan. Bila dibatasi dengan waktu maka team pemenang adalah team yang paling banyak mengumpulkan benteng lawan,
c. Kegiatan Akhir
Dalam kegiatan akhir setelah penenangan diadakan evaluasi sekaligus pemberian motivasi pada mereka yang masih belum maksimal dalam beraktivitas.
2. Siklus II
Dalam siklus kedua dicobakan untuk aspek yang lain yaitu aspek aktivitas ritmik. Bentuk kegiatannya pun sama seperti pada siklus I, hanya bedanya kegiatan ini dilaksanakan di dalam ruangan. Hal ini sambil memantau semangat mereka dalam beraktivitas selama dilapangan ataupun dalam ruangan.
Dalam kegiatan pemanasan dibuat dalam bentuk-bentuk permainan sambil bergerak dan juga sambil bernyanyi. Kemudian dalam kegiatan inti kita berikan contoh-contoh gerakan sambil mereka menirukan dan biarkan mereka mengikuti sambil bernyanyi. Untuk itu kita pilih kaset-kaset yang lirik dan lagunya disukai oleh anak-anak. Setelah itu dibuat kelompok-kelompok, biarkan mereka untuk bermain dan berkreasi menciptakan gerakan-gerakan sesuai dengan ide dan gagasan mereka.
3. Siklus III
Pada siklus II kita cobakan jenis kegiatan aktivitas jasmani yang selama ini kurang disenangi oleh para siswa yaitu atletik pada nomor lempar lembing. Pada kegiatan inipun kita berlakukan mulai pemanasan sampai kegiatan inti dengan pendekatan bermain. Pada saat pemanasan kita gunakan bola tenis dengna jumlah yang cukup. Secara berkelompok ataupun berpasangan biarkan mereka bermain lempar tangkap sambil main kucing-kucingan. Selama kegiatan pemanasan yang penting mereka melakukan gerakan ada unsur lari, lempar tangkap baik itu berpasangan maupun kelompok.
Pada kegiatan inti mereka tidak langsung menggunakan lembing. Biarkan mereka tetap menggunakan bola tetapi kita arahkan untuk lemparannya sudah menggunakan teknik lemparan lembing. Hal itu dilakukan secara berulang-ulang biarkan mereka sambil bermain. Kalau sebagian besar teknik lemparan sudah benar kita lombakan untuk melempar lebih jauh. Bagi yang mereka lemparannya jauh kita berikan pujian. Bagi yang belum betul dan belum jauh, kita beri semangat supaya tidak kalah dengan yang lain. Setelah mereka paham dan bisa membedakan teknik lemparan biasa dengan teknik lemparan lempar lembing baru kita kenalkan dengan lembing yang sesungguhnya. Itupun kita buat dalam bentuk bermain, tetapi untuk faktor keamanan dan keselamatan tetap kita perhatikan.












BAB IV
PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

A. Pelaksanaan
1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Penelitian mulai dilaksanakan pada semester gasal bulan Agustus 2009, penelitian ini dilaksanakan pada saat pelajaran pendidikan jasmani di Kelas …... Adapun jadwal pendidikan jasmani di kelas tersebut 2 kali pertemuan per minggunya yaitu 2 jam pelajaran pada hari Senin jam ke 2 – 3. dengan demikian mereka beraktivitas jasmani 1 kali selama satu minggunya di sekolah.
Sebagaimana telah penulis sampaikan di depan, bahwa kelas …. merupakan kelas yang paling rendah dair hasil tes 1 km diantara 5 kelas yang ada di sekolah kami. Disamping itu kelas ini juga sebagian dari mereka kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dibandingkan dengan kelas-kelas yang lainnya. Adapun tempat pelaksanaan kegiatannya ada yang dilaksanakan dilapangan sekolah, gedung serba guna dan juga dilaksanakan dilapangan yang ada lintasan larinya.
2. Pelaksana Tindakan
Pada setiap siklus diupayakan mulai dari awal kegiatan kita ciptakan suasana yang menarik, kita hilangkan kesan bahwa aktivitas jasmani merupakan kegiatan yang membuat lelah. Kita beri kesempatan pada siswa mulai dari awal pemanasan dengan beraktivitas jasmani sambil bersendau gurau, bernyanyi, biarkan sambil berteriak, yang pasti mereka harus beraktivitas baik secara berpasangan atuapun berkelompok.
Setelah mereka melakukan pemanasan sambil membuat lingkaran atau dengan cara berkumpul yang menarik, kita beri penjelasan tentang kegiatan inti dengna pendekatan bermain. Selanjutnya setelah mereka memahami tentang tata cara bermainnya dibagi kelompok. Biarkan mereka bermain sekalipun ada yang sambil berteriak yang penting mereka senang. Tanpa mereka sadari mereka telah melaksanakan aktivitas jasmani selama jam pelajaran berlangsung.
Unsur pendidikan yang di dapat adalah 1) unsur kognitif : melatih anak untuk dapat mencermati medan dengan cepat, mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, memprediksi kegagalan, mengantisipasi permasalahan dengan cepat. 2) Afektif : melatih anak untuk bersikap sportif, fair play, bekerjasama, bersosialisasi 3) psikomotorik. Dengan melakukan kegiatan aktivitas jasmani sambil bermain ini anak akan memiliki kemampuan motorik yang tinggi, terdapat unsur-unsur endurance, flexibility, agality, speed, coordination, accuray.
B. Hasil Penelitian
Instrumen tes yang digunakan adalah tes kesegaran jasmani dengan tes lari 1 km yang sering disebut juga Cooper test. Berikut ini adalah tabel tingkat kesegaran jasmani yang diambil dari Cooper test untuk umur 8 – 12 tahun.
No Waktu tempuh Tingkat kesegaran jasmani putra
1 Kurang dari 09,37 menit Istimewa
2 08.38 – 09.40 menit Sangat baik
3 09.41 – 10.48 menit Baik
4 10.49 – 12.10 menit Sedang
5 12.10 – 15.30 menit Kurang
6 Lebih dari 15.31 menit Sangat kurang

No Waktu tempuh Tingkat kesegaran jasmani putri
1 Kurang dari 11.50 menit Istimewa
2 11.50 – 14.30 menit Sangat baik
3 13.30 – 14.30 menit Baik
4 14.31 – 16.34 menit Sedang
5 16.35 – 18.30 menit Kurang
6 Lebih dari 18.31 menit Sangat kurang
Pelaksanakan tes lari jarak 1 km yaitu siswa berdiri dibelakang garis start setelah aba-aba ”Ya” siswa lari menempuk jarak 1 km secepat mungkin. Sekor yang dicatat adalah waktu tempuh lari jarak sejauh 1 km. Untuk menentukan kategori dari hasil tes tersebut digunakan tabel Cooper test seperti tabel di atas. Hasil tes lari 1 km sebelum dan sesudah diadakan tindakan dengan pendekatan bermain untuk siswa kelas ….. adalah sebagai berikut:
a. Kelompok Putra.
No Sebelum
(Jumlah siswa) Sesudah
(Jumlah siswa) Tingkat kesegaran jasmani

1 - - Istimewa
2 - - Sangat baik
3 1 3 Baik
4 3 6 Sedang
5 6 5 Kurang
6 4 2 Sangat kurang
b. Kelompok Putri
No Sebelum
(Jumlah siswa) Sesudah
(Jumlah siswa) Tingkat kesegaran jasmani

1 - - Istimewa
2 - - Sangat baik
3 - 1 Baik
4 3 6 Sedang
5 6 3 Kurang
6 9 6 Sangat kurang


Dari hasil tersebut di atas, nampak sekali ada perbedaan. Dalam kegiatan pada sebelum diadakan tindakan dengan pendekatan bermain banyak anak yang cenderung pasif, tetapi setelah dibuat dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain anak lebih termotivasi untuk beraktivitas jasmani. Hal ini disebabkan karena mereka dapat melaksanakan aktivitas jasmani sambil bermain. Apabila pada siklus-siklus berikutnya pada setiap kegiatan dibuat model pembelajaran dengan pendekatan bermain pada aspek-aspek yang lain tentunya akan lebih baik dan menguntungkan baik untuk pengajar maupun siswa. Karena dengan demikian stamina akan tetap terjaga sehingga tingkat kesegaran jasmaninya juga akan lebih meningkat














BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
1. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang, salah satunya yaitu melalui aktivitas jasmani. Dengan demikian pendidikan jasmani dapat digunakan sebagai bentuk kegiatan siswa dalam upaya menjaga dan meningkatkan kesegaran jasmani.
2. Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani sangat diperlukan adanya model dan variasi pelajaran. Untuk itu pengajar sebaiknya dapat membuat model ataupun modifikasi pembelajaran, salah satunya adalah model pembelajaran dengan pendekatan bermain.
B. Saran
Setelah diadakan penelitian tindakan kelas tentang upaya meningkatkan kesegaran jasmani siswa membuktikan bahwa dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain aktivitas jasmani siswa lebih termotivasi karena mereka dapat belajar sambil bermain. Untuk itu penulis menyampaikan saran sebagai berikut :
1. Guru pendidikan jasmani hendaknya banyak melaksanakan dengan pendekatan, teknik, metode ataupun model pembelajaran sebagai bentuk modifikasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani
2. Model pembelajaran dengan pendekatan bermain dapat diterapkan dalam pendidikan jasmani untuk semua jenjang
3. Guna menunjang aktivitas dalam pendidikan jasmani sarana dan prasaran hendaknya disediakan sekalipun dalam memodifikasi pembelajaran dapat menggunakan peralatan yang sederhana, yang penting semua siswa harus beraktivitas jasmani selama pelajaran berlangsung.


DAFTAR PUSTAKA
 Depdiknas, 2003, Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani SD/MI, Jakarta : Depdiknas.
 Depdiknas, 2003, Undang-Undang R.I Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta : Depdiknas
 J. Mata Kupan, 2002, Teori Bermain, Jakarta : Universitas Terbuka
 Ngalim Purwanto. M, 2003, Ilmu Pendidikan Teori dan Praktik, Bandung : Remaja Rosdakarya.
 Winata Putra Udin, 1994, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Universitas Terbuka

R E S U M E F I L S A F A T I L M U

R E S U M E F I L S A F A T I L M U

FILSAFAT ILMU
A. PENGERTIAN FILSAFAT
Orang yang berfilsafat dapat diumpamakan sebagai seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang , ia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kemestaan alam, Karakteristiknya berfikit filsafat yang pertama adalah menyeluruh, yang kedua mendasar.
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran/ rasio belaka.
1) Menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalamdalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan
2) Menurut Plato( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada
3) Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda.
4) Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.
5) Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya.
6) Immanuel kant (1724 – 1804) menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup didalamnya 4 persoalan : yaitu (1) apakah yang dapat kita ketahui (dijawab dengan Metafisika) ,(2) Apakah yang boleh kita kerjakan (dijawab dengan etika), (3) Sampai dimanakah pengharapan kita (dijawab dengan agama) (4) Apakah yang dinamakan manusia (dijawab dengan antropologi)
7) Harold H.Titus mengemukakan 4 pengertian filsafat. adalah : (1) satu sikap tentang hidup dan tentang alam semesta(Philosophy is an attitude toward life and the universe) (2) Filsafat adalah satu metode pemikiran reflektif dan penyelidikan Akliah(Philosophy is a method of reflective thinking and reasoned inquired) (3) Filsafat adalah satu perangkat masalah ( philosophy is a group pf problems) (4) Fissafat ialah satu perangkat teori atau isi pikiran (philosophy is a group of system of thouhg.
8) Prof. Dr. Fuad Hassan guru besar psikologi universitas indonesia menyimpulkan bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal dalam arti mulai dari radix suatu gejala dari akar suatu hal yang hendak dimasalahkan, dan dengan jalan penjajagan yang radikal filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulankesimpulan yang universal
9) Al- Farabi mengatakan bahwa filsafat adalah mengetahui semua yang wujud karena ia wujud.(al-ilm bil maujudat bimahiya maujudah). Tujuan terpenting mempelajari filsafat adalah mengetahui tuhan, bahwa ia esa dan tidak bergerak, bahwa ia memjadi sebab yang aktif bagi semua yang ada , bahwa ia mengatur alam ini dengan kemurahan, kebijaksanaan dan keadilan-Nya, Seorang filosof atau al hakim adalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang zat yang ada dengan sendirinya (al-wajibli-dzatihi), Wujud selain Allah , yaitu mahluk adalah wujud yang tidak sempurna.
10) Ikwanushafa bagi golongan ini, filsafat itu bertingkat-tingkat , pertama cinta kepada ilmu, kemudian mengetahui hakikat wujud-wujud, menurut kesanggupan manusia dan yang terakhir ialah berkata dan berbuat sesuai ilmum mengenai lapangan filsafat diketahui ada 4 yaitu matematika, logika, fisika dan ilmu ketuhanan. Sedang ilmu ketuhanan mempunyai bagian:1. mengenal Tuhan, 2 ilmu kerohanian yaitu malaikat, 3. ilmu kejiwaan 4. Ilmu politik (politik kenabian, politij pemerintahan, politik umum, politik khusus) 5. ilmu akherat.
11) IBNUSINA Pembagian filsafat bagi Ibnu sina pada pokoknya tidak berbeda dengan pembagian yang sebelumnya, filsafat teori dan filsafat amalan. Filsafat ketuhanan menurut Ibnu Sina adalah: 1. ilmu tentang turunnya wahyu dan mahluk-mahluk rohani yang membawa wahyu itu, dengan demikian pula bagaimana cara wahyu itu disampaikan, dati sesuatu yang bersifat rohani kepada sesuatu yang dapat dilihat dan didengar. 2. ilmu akherat (Ma’ad) antara lain memperkenalkan kepada kita bahwa manusia ini tidak dihidupkan lagi badannya, maka rohnya yang abadi itu akan mengalami siksa dan kesenangan.
12) AL-KINDI ,diikalangan kaum muslimin , orang yang pertama memberikan pengertian filsafat dan lapangannya adalah Al-kindi, ia membagi filsafat 3 bagian :(1)Thibiyyat (ilmu fisika) sebagi sesuatu yang berbenda (2) al-ilm-urriyadli (matematika) terdiri dari ilmu hitung , tehnik, astronomi, dan musik, berhubungan dengan benda tapi punya wujud sendiri, dan yang tertinggi adalah (3) ilm ur-Rububiyyah (ilmu ketuhanan)/ tidak berhubungan dengan benda sama sekali.
B. OBYEK FILSAFAT
1. OBYEK MATERIA FILSAFAT Ialah segala sesuatu yang menjadi masalah filsafat , segala sesuatu yang dimasalahkan oleh atau dalam filsafat. Tiga persoalan pokok (1) hakikat tuhan, (2) hakikat Alam dam (3) hakikat manusia
2. OBYEK FORMA FILSAFAT, ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya sampai keakarnya) tentang obyek materi filsafat
C. CABANG- CABANG FILSAFAT
(1) Epistemologi (filsafat pengetahuan)
(2) Etika (Filsafat Moral)
(3) Estetika (filsafat Seni)
(4) Matafisika
(5) Politik (Filsafat pemerintahan)
(6) Filsafat Agama
(7) Filsafat ilmu
(8) Filsafat Pendidikan
(9) Filsafat Hukum
10 Filsafat Sejarah
11 Filsafat matematika
D. FILSAFAT ILMU
Merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan sosial namun permasalah-permasalahan teknis yang khas, maka filsafat ilmu itu sering dibagi menjadi filsafat ilmu alam dan filsafat ilmu sosial. Filsafat ilmu merupakan telaah secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu seperti :
 Obyek mana yang ditelaah ilmu? Ujud hakiki obyek? Hubungan obyek dengan tangkapan manusia (berfikir, merasa, mengindera( yang membuahkan pengetahuan).
 Bagaimana proses yang memungkinkan ditimba pengetahuan yang berupa ilmu? Bagainama prosedurnya. ? hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapat pengetahuan yang benar, Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? Cara dan tehnik sarana yang membantu kita mendapat pengetahuan yang berupa ilmu
 Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara tehnik prosedural yang merupakan operasinal metode ilmiah dengan norma-norma moral/ profesional.
Filsafat Ilmu Merupakan Cabang Ilmu Filsafat yang hendak mengkaji ilmu dari sisi filsafat untuk memberi jawaban terhadap sejumlah pertanyaan yang mencakup apa itu ilmu (ONTOLOGI), Bagaimana ilmu itu diperoleh (dijawab dengan epistemologi) dan untuk apa ilmu itu dilahirkan (aksiologi). Filsafat ilmu mempersoalkan dan mengkaji segala persoalanyang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, fisik, dan metafisik. Filsafat ilmu memfokuskan pembahasan dalam metodologi ilmu pengetahuan .ilmumerupakan salah satu cara untuk mengetahui bagaimana budi manusia bekerja.ilmu pengetahuan meupakan karya budi manusia bekerja , karya budi logis dan imajinatif sekaligus bernurani, ilmu bersifat empirik, sistematikm observatif dan obyektif filsafat ilmu ,
E. MOTIVASI TIMBULNYA FILSAFAT
1. Dongeng , tahayul (mite) ada yang kritis ingin tahu kebenaran mite itu (jaman awal Yunani)
2. Keindahan Makroskosmos , ingin tahu rahasia alam. Ketakjuban sikap lahir dalam bentuk bertanyakebenaran/pertanyaan menjadi serius dan penyelidikan yang (bukan sembarangan pertanyaan sistematis filosof Ultimate Question : contoh Thales ” what is the nature of the world stuff?” (-) water is the basic principle of the universe (+)
3. Penyebab timbulnya pertanyaan adalah kesangsian Sangsi (ragu) : percaya, sangsi, tidak percayapikiran akan bekerja pikiran membentur-bentur menggelisahkan (problema)
F. FAEDAH MEMPELAJARI FILSAFAT
1. Terlatih berfikir serius
2. Mampu memahami filsafat
3. Memungkinkan menjadi filosof
4. menjadi warga negara yang baik
.
G. CARA MEMPELAJARI FILSAFAT
1. Metoda sistematis: isi filsafat :-Teori pengetahuan (isme-isme filsafat)
-Teori hakikat (aliran-aliran filsafat)
-Teori nilai
2. Metoda Histeris :
- Tokoh dan periode filsafat (sejarah pemikiran)
- Periode , babakan sejafah filsafat: ancient philosofy, medieval philosophy, modern philosophy .
3. Metoda kritis : tingkat intensif, telah memiliki pengetahuan filsafat, pendekatan sistematis atau histories memahami isi , mengajukan kritik, menentang dukungan dengan pendapat sendiri atau filosof lain
H. SISTEMATIS FILSAFAT
Terdiri Atas 3 Cabang Besar Filsafat
EPISTEMOLOGI (TEORI PENGETAHUAN) Cara memperoleh pengetahuan logika dengan cara membentuk pengetahuan itu sendiri Terdiri atas :
1. Empirisme (John Locke 1632-1704)
2. Rasionalisme (Rene Decartes 1596 – 1650)
3. Positivisme (August Compte, 1798 – 1857)
4. Intusionisme (Hendri Bergson, 1859 – 1941)
Hasilnya : 1. sains, 2. Filsafat Logika, 3. Latihan rasa (intuisi)
ONTOLOGI(TEORI HAKIKAT) Pembahasan pengetahuan objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikat Terdiri atas :
1. materialisme/naturalisme :hakikat benda adalah materi itu sendiri, rohani, jiwa, spirit muncul dari benda, Naturalisme tidak mengakui roh , jiwa tentu saja termasuk Tuhan
2. Idealisme : Hakikat benda adalah rohani, spirit. Alasan : nilai rohnya lebih tinggi dari badan, manusia tidak dapat memahami dirinya daripada dunia dirinya.
3. Dualisme : hakikat benda itu dua, materi dan imateri, materi bukan muncul dari roh, roh bukan muncul dari benda, sama-sama hakikatnya
4. Skeptisisme
5. Agnotisme : manusia tidak dapat mengetahui hakikat benda
Hasilnya : 1. Kosmologi, 2. Antropologi, 3. Theodicea, 4. Macam-macam filsafat
AKSIOLOGI (teori nilai ) guna pengetahuan etika-estetika (nilat dan guna pengetahuan) terdiri dari Terdiri dari :
1. Hedonisme : sesuatu dianggap baik jika mengandung kenikmatan bagi manusia (hedon)
2. Vitalisme : baik buruknya ditentukan oleh ada tidaknya kekuatan hidup yang dikandung obyek-obyek yang dinilai, manusia yang kuat, ulet, cerdas adalah manusia yang baik
3. Utilitarisme : Yang baik adalah yang berguna, jumlah kenikmatan- jumlah penderitaan = nilai perbuatan
4. Pragmatisma : Yang baik adalah yang berguna secara praktis dalam kehidupan, ukuran kebenaran suatu teori ialah kegunaan praktis teori itu, bukan dilihat secara teoritis
I .ALIRAN-ALIRAN DALAM ILMU PENGETAHUAN
1.EMPIRISME
Tokoh : John Locke (1632-1704) berasal dari empeiria, empeirikos (bahasa yunani) = pengalaman. Manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya (pengalaman indrawinya = sensasi) Metoda :eksperimen, empirisme ini lemah karena keterbatasan indrawi manusia

2.RASIONALISME
Tokoh : Rene Descartes (1596-1650), Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap obyek Sensasi indra dipertimbangkan akal -pengetahuan yang benar Rasinalisma (logis) + empirisisme metode sains pengetahuan sains
3.POSITIVISME
Tokoh : August Compte (1798 – 1857), pada dasarnya itu sama denganempirisme plus rasionalisme. Indra ini penting dalam memperoleh pengetahuan terapi harus dipertajan dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen, kemajuan sains benar-benar di mulai
4.INTUISIONISME
Tokoh : Hendri bergson (1859 – 1941) Untuk memahami kebenaran yang utuh, tetap unik (keseluruhan) yaitu dengan intuisi( = pengetahuan tingkat tinggi, kemampuan tertinggi yang dimiliki manusia) Intuisi ini menangkap obyek secara langsung tampa melalui pemikiran rasio Pengembangan kemampuan ini (intuisi) memerlukan suatu usaha (latiahan). Iluminasionisme teori kasyaf, Metoda : riyadhah (thariqat), manusia yang hatinya bersih akan sanggup menerima pengetahuan dari tuhan Hati (Jiwa)riyadhah Kasyaf pengetahuan
5. LOGIKA
Pelopor : Aristoteles Membicarakan norma-norma berfikit agar diperoleh dan terbentuk pengetahuan yang benar. Terdiri : (1) Logika Formal (logika bentuk (form) bentuk berfikir yang benar, dan ketepatan kesimpulan-pengertian, putusan, penuturan. 2) Logika material terdiri: meneliti kesimpulan dan kebenaran kesimpulan
5. WAHYU
Adalah pengetahuan yang didapat manusia melalui pemberian Tuhan secara langsungkepada hambanya yang terpilih yang disebut \nabi dan Rasul . agama menjadi kunci dalam wahyu. Agama menerangakan kepada manusia tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau maupun yang tidak terjangkau oleh manusia,\agama bisa menjadi informasi dan sekaligus konfirmasi terhadap ilmu pengetahuan yang didapat
manusia


ILMU PENGETAHUAN
A. PENGERTIAN ILMU
Ilmu berasal dari kata ”alima(bahasa arab) yang berarti tahu, jadi ilmu maupun science secara etimologis berarti pengetahuan. Science berasal dari kata scio, scire (bahasa latin yang artinnya tahu). Secara terminologis ilmu dan science punya pengertian yang sama yaitu pengetahuan. yang punya ciri-ciri: Ralfh Ross dan ernest Van Den Haag menulis bahwa ilmu itu empirical, rasional, yang umum dan bertimbun bersusun dan ke empatnya serentak.(endang hal 45) Mohamad hatta menuliskan : tiap-tiap ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabit maupun kedudukannya tampak dari luar. Maupun menurut bangunannya dari dalam.(Endang hal 45) Prof. Drs Harsojo, Guru besar antropologi di universitas Pajajaran menerangkan bahwa ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang sistematis, suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati, oeh pancaindra. Suatu cara menganalisa yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proporsi bentuk (Endang hal 46) Ilmu adalah hal-hal yang diketahui (keseluruhan dari kebenaran-kebenaran yang terkait antara satu dengan yang lainnya secara sistematis Ilmu menurut Ralp Ross ”science empirical , rational, general and cumulative and is all four once ( ilmu itu empiris , rasional, umum dan bertimbun bersusun dan semuanya serentak. Ilmu -sensation --Logikal -verification empiric-hipotesis -proposition - teory -experiment .
Bagi ilmu tidak cukup perenungan dan pencaman (pendalaman berfikir saja) melainkan mesti berkembang melalui pencerapan indraan dan [engindraan (sensasion) , pengumpulan dan perbandingan data, penilaian jumlah berupa perhitungan , penimbangan , pengukuran , meningkat dari data tentang hal-hal khusus pada yang khusus ( deduksi), menarik kias analogi antara peristiwa yang ada kesamaannya serta berfikir dengan menarik kesimpulan yang logical, yang dapat dipertanggung jawabkan oleh logika., Pengujian berupa pengalaman positif (verification) secara empiric ,ujian ini disebut percobaan (experiment). Percobaan harus bersifat obyektif yakni menghasilkan kesimpulan yang sama, meskipun dilakukan oleh berbagai kalangan. Praduga (hipotesis) hanyalah titik tolak pertama yang mesti diubah dan diganti kalau ternyata ada kekurangannya atau salah. Berdasarkan ujian yang keras dari pengalaman, setelah dinyatakan kebenarannya yang obyektif barulah sesuatu itu disebut dalil (proposition), kumpulan dalil itu disebut teori.
B. SIFAT-SIFAT ILMU
1. RASIONAL : proses pemikiran yang berlangsung dalam ilmu itu harus dan hanya tunduk pada hukum-hukum logika.
2. EMPIRIS : kesimpulan yang didapatnya harus dapat ditundukkan pada verifikasi pancaindra manusia.
3. SISTEMATIS : fakta yang relevan itu harus disusun dalam suatu kebulatan yang konsisten
4. UMUM harus dapat dipelajari oleh setiap orang, tidak bersifat esoterik
5. AKUMULATIF : Kebenaran yang diperoleh selalu dapat dijadikan dasar untuk memperoleh kebenaran yang baru
C . METODA ILMU
Metoda Ilmiah : prosedur yang ditempuh dalam mendapatkan ilmu Metode ilmiah Metodologi : prosedur ----logika-hipotesis-pembuktian Logika : terdiri dari perumusan masalah : (1)latar belakang masalah ,(2)perumusan, (3) kerangka pemikiran Hipotesis : (4) pengajuan hipotesis Observasi pembuktian (5) prosedur penelitian (6) Pengujian hipotesis (7) kesimpulan.

D. TEORI TENTANG KEBENARAN
1. Teori Konsistensi : teori kebenaran salin berhubungan koheren, (KEBENARAN RASIO) Perumusan : Phytagoras dikembangkan = Hegel (abad 19) Prinsip : Deduksi (umumkhusus) Tingkat kebenaran: kuat/lebih meyakinkan Sesuatu itu benar jika ia mengandung yang koheren, artinya kebenaran itu konsisten dengan kebenaran yang sebelumnya Kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dan pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu kita ketahui dan diakui benar. Suatu kepercayaan adalah benar bukanlah karena bersesuaian dengan fakta melainkan ia bersesuaian atau berselarasan dengan binaan pengetahuan yang kita miliki Matematika ialah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren, plato dan aristoteles mengembangkan teoti koherensia berdasarkan pola pemikiran yang dipergunakan euclid dalam pengukuran ilmu ukurnya
2. Teori Korespondensi (KEBENARAN FAKTUAL) Sesuatu itu benar jika ada yang dikonsepsikan sesuai dengan objeknya (fakta). Prinsip : Induksi (umum khusus) Tingkat kebenaran: agak rendah karena sifat metode induksi itu sendiri Perumus :Bertrand Russel (1872 – 1970 ) awalnya adalah aristoteles( Dr Ali Anwar M,si hal 21) -Kebenaran itu dicapai setelah diadakan pengamatan dan pembuktian (observasi dan verifikasi) -Kebenaran itu berupa kesesuaian (korespondensi) antara yang dimaksud oleh suatu pendapat dan apa yang sungguh-sungguh merupakan faktanya Contoh : ”Ibu kota negara RI adalah Jakarta karena faktanya memang demikian, bila dikatakan Bandung maka itu tidaklah benar. ( Jujun S Hal 57)
3. teori Pragmatis Pencetus : Charles S. Peirce (1835 – 1914) makalah tahun 1878” How to Make Our ideas Clear” Para ahlinya : Willian james (1842 – 1910) John Dewey (1859 – 1952) Tingkat kebenaran : lemah karena ada unsur subyekti Sesuatu itu benar jika menimbulkan akibat positif Benar tidaknya suatu pendapat , teori atau dalil semata-mata tergantung pada berfaedah tidaknya pendapat tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam penghidupannya, yaitu ada nilai praktis ada hasilnya, berguna , memuaskan (satisfies) berlaku (works). Bagi prakmatis suat agama bukan benar karena tuhan yang disembahnya atau Tuhan itu sungguh-sungguh ada, tetapi karena pengaruhnya yang positif dan berkat kepercayaan itu masyarakat jadi tertib.
E. SIKAP ILMIAH
Adalah sikap-sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap ilmuwan dalam melakukan tugasnya untuk mempelajari meneruskan, menolak atau menerima serta merubah atau menambah suatu ilmu. Prof harsojo menyebutkan enam macam sikap ilmiah :
1. Obyektivitas , dalam peninjauan yang penting adalah obyeknya
2. Sikap serba relatif , ilmu tidak mempunyai maksud mencari kebenaran mutlak, ilmu berdasarkan kebenaran-kebenaran ilmiah atas beberapa postulat, secara a priori telah diterima sebagai suatu kebenaran. Malahan teori-teori dalam imlu sering untuk mematahkan teori yang lain
3. Sikap skeptis adalah sikap untuk selalu ragu-ragu terhadap pernyataanpernyataan yang belum cukup kuat dasar-dasar pembuktiannya.
4. Kesabaran intelektual , sanggup menahan diri dan kuat untuk tidak menyerah pada tekanan agar dinyatakan suatu pendirian ilmiah , karena memang belum selesainya dan cukup lengkapnya hasil dari penelitian , adalah sikap seorang ilmuwan
5. Kesederhanaan adalah sikap cara berfikir, menyatakan, dan membuktikan
6. Sikap tidak memihak pada etik.
F. FUNGSI ILMU PENGETAHUAN
Drs R.B.S. FUDYARTANTA, dosen psikologi universitas gajah mada menyebutkan 4 tujuan ilmu pengetahuan
1. Fungsi deskriptif: menggambarkan ,melukiskan dan memaparkan suatu obyek atau masalah sehingga mudah dipelajari
2. Fungsi pengembangan, menemukan hasil ilmu yang baru
3. Fungsi prediksi, meramalkan kejadian yang besar kemungkinan terjadi sehingga dapat dicari tindakan percegahannya
4. Fungsi Kontrol, mengendalikan peristiwa yang tidak dikehendaki.
G. AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN
J.I.G.M DROST S.J Dalam karangannya Agama dan ilmu pengetahuan alam menulis :”ilmu pengetahuan alam adala ilmu tentang semesta alam sejauh berada dalam waktu dan ruang, tetapi ruang dan waktu baru ada pada waktu alam ada. Maka titik dan saat terjadinya terletak di luar sudut pandangan ilmu pengetahuan alam. Prof Harsojo memperingatkan : tetapi perlu diingatkan bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh umat manusia dewasa ini belumlah seberapa dibandingkan dengan rahasia alam semesta yang melindungi amanusi. Ilmuwan besar biasanya diganggu dengan perasaan agung semacam kegelisahan batin untuk ingin tahu lebih banyak. Bahwa yang diketahui itu masih meragukan. Serba tidak pasti yang menyebabkan lebih gelisah lagi. Dan biasanya ilmiawan besar adalah orang yang rendah hati dan suka menundukan kepala. Sebagai buah padi yang makin berisi makin merunduk.
SARANA ILMIAH
Sarana ilmiah dimaksud meliputi beberapa hal yaitu bahasa, matematika, statistika, dan logika.
A. Bahasa
Bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari simbolsimbol bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota sesuatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain. Perlu diteliti setiap unsur yang terdapat di dalamnya. Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berpikir seseorang dan tiada batas dunia baginya. Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa. Bahasa ilmiah adalah bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah.
B. Matematika
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambanglambang matematika bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati.
1. Matematika sebagai Sarana Berpikir Deduktif
Matematika merupakan ilmu deduktif. Nama ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari atas pengalaman seperti halnya yang terdapat di dalam ilmu-ilmu empiris, melainkan didasarkan atas deduksi-deduksi (penjabaranpenjabaran).
2. Matematika untuk Ilmu Alam dan Ilmu Sosial
Kontribusi matematika dalam perkembangan ilmu alam, lebih ditandai dengan penggunaan lambang-lambang bilangan untuk penghitungan dan pengukuran, di samping hal lain seperti bahasa, metode, dan lainnya. Berbeda dengan ilmu sosial yang memiliki obyek penelahaan yang kompleks dan sulit dalam melakukan pengamatan, di samping obyek penelaahan yang tak berulang maka kontribusi matematika tidak mengutamakan pada lambang-lambang bilangan. Kita akan mempelajari sebuah kelompok sosial dengan informasi tertentu mengenai perasaan suka dan tidak suka di antara pasangan manusia. Sebuah grafik adalah suatu bahasa matematis yang mudah di mana kita dapat mengemukakan struktur semacam itu.
C. Statistik
Dalam kamus ilmiah populer, kata statistik berarti tabel, grafik, daftar informasi, angka-angka, informasi. Sedangkan kata statistika berarti ilmu pengumpulan, analisis, dan klasifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi. Abraham Demoitre (1667-1754) mengembangkan teori galat atau kekeliruan (theory of error). Pada tahun 1757 Thomas Simpson menyimpulkan bahwa terdapat sesuatu distribusi yang berlanjut dari suatu variabel dalam suatu frekuensi yang cukup banyak. Pearson melanjutkan konsep-konsep Galton dan mengembangkan konsep regresi, korelasi, distribusi, chi-kuadrat, dan analisis statistika untuk data kualitatif Pearson menulis buku The Grammar of Science sebuah karya klasik dalam filsafat ilmu. Penelitian ilmiah, baik yang berupa survei maupun eksperimen, dilakukan lebih cermat dan teliti dengan mempergunakan teknik-teknik statistik yang diperkembangkan sesuai dengan kebutuhan.
Tujuan dari pengumpulan data statistik dapat dibagi ke dalam dua golongan besar, yang secara kasar dapat dirumuskan sebagai tujuan kegiatan praktis dan kegiatan keilmuan. Perbedaan yang penting dari kedua kegiatan ini dibentuk oleh kenyataan bahwa dalam kegiatan praktis hakikat alternatif yang sedang dipertimbangkan telah diketahui, paling tidak secara prinsip, di mana konsekuensi dalam memilih salah satu dari alternatif tersebut dapat dievaluasi berdasarkan serangkaian perkembangan yang akan terjadi. Di pihak lain, kegiatan statistika dalam bidang keilmuan diterapkan pada pengambilan suatu keputusan yang konsekuensinya sama sekali belum diketahui. Pengambilan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang kita hadapi. Dalam hal ini statistika memberikan jalan keluar untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yakni makin besar contoh yang diambil, maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut.

Hubungan antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika, Matematika dan Statistika
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan ogika induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.
Peranan Statistika dalam Tahap-Tahap Metode Keilmuan
Statistika merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan. Metode keilmuan, sejauh apa yang menyangkut metode, sebenarnya tak lebih dari apa yang dilakukan seseorang dalam mempergunakan pikirannya, tanpa ada sesuatu pun yang membatasinya. Statistika diterapkan secara luas dalam hampir semua pengambilan keputusan dalam bidang manajemen. Statistika diterapkan dalam penelitian pasar, penelitian produksi, kebijaksanaan penanaman modal, kontrol kualitas, seleksi pegawai, kerangka percobaan industri, ramalan ekonomi, auditing, pemilihan risiko dalam pemberian kredit, dan masih banyak lagi.













DAFTAR PUSTAKA

 Ahmad hanafi, Ma, Pengantar filsafat islam , (Bulan Bintang Jakarta 1990)
 DR. Ali Anwar,M si dkk Rangkuman Ilmu Perbandingan Agama Dan Filsafat ,Pustaka Setia Bandung, 2005.
 H. Endang Saifuddin Anshari Ilmu, Filsafat dan Agama ,Bina ilmu Surabaya 1979
 Jujun S Suriasumantri, Filsafat ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka sinar Harapan jakarta 1993.
 Conny Semiawan, th.I Setiawan, Yufiarti, Panorama Filsafat Ilmu landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Masa, Mizan tahun 2005
 Majalah Percikan Iman No. 4 Tahun II April 2001
 Majalah Percikan Iman No.6 Tahun I Desember 2000
 Prof. K. Bertens sejarah filsafat.. Penerbit Kanisius Jakarta cetakan ke 23 tahun 2006.
 Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
 http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.