Daftar Blog Saya

Jumat, 22 Januari 2010

AKAL DAN WAHYU DALAM PRESFEKTIF TEOLOGI DAN TASAWUF

AKAL DAN WAHYU DALAM PRESFEKTIF TEOLOGI DAN TASAWUF
A. Akal dan Wahyu menurut Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah
1. Mu’tazilah
Mu’tazilah adalah aliran teologi yang bersifat tradisional dan liberal, dan dikenal juga dengan nama “Kaum Rasionalisme Islam”. Bagi Mu’tazilah akal maupun mengetahui keempat persoalan pokok di atas, berterima kasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu wajib, mengerjakan yang baik dan menjahui yang jahat adalah wajib.
Tokoh Mu’tazilah yang lain seperti al-Nazaam juga mengatakan sedemikian sebelum wahyu datang akal wajib mengetahui Allah, mengetahui yang baik dan yang jahat. Golongan al-Murdar yang dipelopori oleh Isa ibn Sabih lebih jauh lagi menurut mereka akal wajib mengetahui Allah, mengetahui hukum-hukum dan sifat Tuhan, walaupun wahyu belum dating orang yang tidak berterima kasih kepada Tuhan mendapat hukuman kekal dalam neraka.
Dengan demikian, bagi kaum Mu’tazilah daya akal kuat tetapi fungsi wahyu penting yaitu memperkuat apa yang telah diketahui oleh akal. Memang akal dapat mengetahui yang baik dan yang jahat. Tetapi tidak semua yang baik itu baik dan yang jahat itu jahat seperti apa yang diketahui oleh akal. Jadi hanya sebagian saja yang diketahui oleh akal.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bagi kaum Mu’tazilah akal cukup mampu mengetahui keempat persoalan pokok tersebut, akan tetapi persoalan baik dan jahat yang dapat diketahui akal secara garis besarnya saja. Sedangkan secara terperinci ditetapkan oleh wahyu. Oleh sebab itu, bagi kaum Mu’tazilah fungsi wahyu lebih banyak bersifat konfirmasi daripada informasi.
2. Asy’ariyah
Asy’ariyah system teologinya bersifat tradisional, kaum ini memberikan daya terkecil kepada akal dan fungsi terbesar kepada wahyu. Bagi mereka akal manusia hanya dapat mengetahui adanya Tuhan saja, sedangkan mengetahui baik dan jahat dan kewajiban-kewajiban manusia dapat diketahui melalui wahyu. Dengan demikian, jika sekiranya wahyu tidak ada manusia tidak akan tahu kewajiban-kewajibannya. Sekiranya syariat tidak ada, kata al-Ghazali, manusia tidak akan berkewajiban mengetahui Tuhan dan tidak akan berkewajiban berterima kasih kepada-Nya atas nikmat yang diturunkan-Nya kepada manusia
Pendapat al-Baqhdadi tentang upah ini bertentangan dengan konsep kaum Mu’tazilah, bagi Mu’tazilah, Allah wajib memberi pahala atas perbuatan yang dianggap jahat oleh akal karena pada perbuatan itu sendiri terdapat sifat kebaikan dan kejahatan.
Tidak ada kewajiban sebelum datangnya syariat dan akal tidak dapat menentukan kewajiban sebelum datangnya syariat Dengan demikian persoalan baik dan buruk tidak dapat diketahui oleh akal.
Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh tokoh Asy’ariyah satu pendapat tentang kemampuan akal manusia, bagi mereka akal hanya dapat mengetahui wujud Tuhan, dalam tiga pokok lainnya dapat diketahui manusia dengan adanya wahyu. Oleh sebab itu, wahyu lebih banyak bersifat informasi daripada konfirmasi, karena akal manusia menurut system teologi Asy’ariyah lemah. Tetapi pengiriman rasul bagi aliran ini jaiz. Sesuai dengan konsep Kehendak Mutlak Tuhan tidak ada kewajiban bagi Tuhan untuk mengutus rasul.
3. Maturidiyah
Maturidiyah dan Asy’ariyah disebut juga dengan golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah, tetapi dalam system teologinya terdapat perbedaan pendapat dalam menempatkan kedudukan akal dan wahyu.. sementara itu Maturidiyah terpecah pula menjadi dua golongan, masing-masingnya mempunyai persepsi yang berbeda dalam menempatkan kedudukan wahyu dan akal untuk menjawab keempat persoalan terdahulu.
Maturidiyah samarkand dengan tokohnya Abu Mansur al-Maturidi dan Maturidiyah Bukhara dengan tokohnya al-Bazdawi. Maturidiyah Samarkand berpendapat hanya satu yang tidak dapat diketahui akal yaitu butir empat. Untuk itu, diperlukan wahyu. Ketiga butir lainnya dapat diketahui akal.
Dalam hal yang demikian Maturidiyah Samarkand sependapat dengan Mu’tazilah yang mengatakan akal manusia mampu mengetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan dan mengetahui yang baik dan yang jahat. Namun, kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jahat bagi Mu’tazilah dapat diketahui akal tetapi bagi Maturidiyah Samarkand diketahui dengan wahyu. Sebagaimana penjelasan al-Bazdawi, “Percaya kepada Tuhan dan berterimakasih kepada-Nya sebelum adanya wahyu adalah wajib dalam paham Mu’tazilah Al-Syaikh Abu Mansur al-Maturidi dalam hal ini sepaham dengan Mu’tazilah. Demikian jugalah umumnya Ulama Samarkand dan sebahagian dari alim ulama Irak.
Menyangkut masalah pengetahuan tentang keburukan menurut Maturidiyah Samarkand ini ialah : bagi seluruh (al-Asyya’) itu terhadap keburukan yang sebenarnya (zati). Sementara itu akal mampu mengetahui sebahagian dari keburukan perbuatan itu. Maturidi membagi sesuatu (al-assya’) itu kepada tiga bagian.
 Pertama : Sesuatu yang dapat diketahui kebaikannya dengan akal
 Kedua : Sesuatu yang tidak jelas kebaikan dan keburukannya untuk diketahui oleh akal.
Bagian terakhir ini tidak dapat diketahui kecuali melalui petunjuk syariat. Argument al-Maturidi tentang akal ini adalah akal mengetahui bahwa bersikap adil dan lurus adalah baik dan bahwa bersikap tak lurus adalah buruk. Oleh karena itu, akal memang mulia terhadap orang yang adil serta lurus, dan memandang rendah terhadap orang yang bersikap tak adil dan tak lurus. Akal selanjutnya memerintah manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan mempertinggi kemuliaan dan melarang manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan mempertinggi kemuliaan dan melarang manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan yang membawa kepada kerendahan. Perintah dan larangan itu dengan demikian menjadi wajib dengan kemestian akal (fa yajib al-amr wa al-nahy bi ma’rifah al-aql).
Diisyaratkan dari kutipan di atas yang diwajibkan akal adalah adanya perintah dan larangan bukan mengerjakan yang baik dan buruk. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bagi Maturidiyah Samarkand akal manusia mampu mengetahui tiga butir persoalan pokok tersebut. Tentang kewajiban menjalankan yang baik dan menjauhi yang jahat diketahi dengan wahyu. Kalau dibandingkan dengan Asy’ariyah, daya akal bagi Maturidiyah Samarkand lebih tinggi, baginya tiga yang diketahui akal, tetapi bagi Asy’ariyah hanya satu. Adapun maturidiyah Bukhara, baginya hanya dua saja yang dapat diketahui akal, yaitu adanya Tuhan dan kebaikan serta kejahatan. Akibat dari pendapat ini ialah mengetahui Tuhan dalam arti berterima kasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu tidaklah wajib bagi manusia. Dan ini memang merupakan pendapat golongan Bukhara, alim ulama Bukhara kata Abu Uzbah sebelum adanya rasul-rasul, percaya kepada Tuhan bukanlah merupakan dosa. Karena kewajiban mengetahui Tuhan dan kewajiban berbuat baik dan meninggalkan yang buruk hanya diketahui sesudah adanya rasul. Fungsi akal bagi Maturidiyah Bukhara adalah untuk pengetahuan, dan kewajiban diterima manusia dari wahyu.
Dibandingkan dengan Maturidiyah Samarkand, daya akal bagi Maturidiyah Bukhara ini lebih kecil, karena Maturidiyah Samarkand, akal baginya mampu mengetahui tiga persoalan pokok bagi Maturidiyah Bukhara hanya dua saja, tetapi kalau dibanginakan dengan Asy’ariyah, daya akal tinggi yaitu dua banding satu.
Hasil analisa perbandingan antara Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah bukhara, maka ternyata Maturidiyah Samarkand lebih dekat system teologinya dengan Ma’tazilah, dan Maturidiyah Bukhara lebih mendekati pemikiran Asy’ariyah.
Sebagai gambarnya dapat dilihat dari diagram yang telah digambarkan Prof. Harun Nasution berikut ini :


Dalam bentuk table dapat dilihat perbandingan fungsi akal dan wahyu antara aliran di atas sebagai berikut :
Aliran Teologi Mengetahui Tuhan Kewajiban mengetahui Tuhan Mengetahui Baik dan Buruk Kewajiban Mengerjakan Baik dan menjauhi yang jahat
Mu’tazilah Akal Akal Akal Akal
Asy’ariyah Akal Wahyu Wahyu Wahyu
Maturidiyah Samarkand Akal Akal Akal Wahyu
Maturidiyah Bukhara Akal Wahyu Akal Wahyu


B. Akal dan Wahyu menurut Robiatul Adawiyah, Al-Hallaj, dan Ibnu Al-‘Arabi
1. Rabiatu adawiah
Rabiatu adawiah sebagai seorang yang hidup saleh dan zahid sepanjang harinya ia berpuasa dan mengerjakan shalat sunat sebanyak 1000 rakaat. Al-Manawi menulis di dalam bukunya “Al-Kawakibu al-Durriyah” mengatakan bahwa Rabiatul Adawiyah mengerjakan shalat sunat sebanyak 1000 rakaat dalam sehari semalam. Orang bertanya: apa yang kau inginkan dengan shalatmu itu? Katanya: Aku tidak menginginkan pahala, tetapi kukerjakan agar Rasulullah bergembira pada hari kiamat nanti berkata kepada para nabi bahwa aku adalah seorang wanita dari umatnya, lihatlah ibadahnya.” Sebagai seorang yang zahid (yang tak tertarik pada harta dan kesenangan duniawi) ia tidak pernah meminta tolong kepada orang lain ketika ia ditanya mengapa ia bersikap demikian ia menjawab: aku malu meminta sesuatu pada Dia yang memilikinya, apalagi kepada orang yang bukan pemilik sesuatu itu. Allah telah memberikan rezeki kepadaku dan kepada orang kaya. Apakah Dia yang memberi rezeki kepada orang kaya, tidak memberi rezeki kepada orang miskin? Sekiranya Dia yang menghendaki bagiku maka aku harus menyadari posisiku sebagai hamba-Nya dan haruslah menerimanya dengan hati yang lapang”. Zuhud yang tadinya telah dirintis oleh Hasan al-Basri yaitu takut (khauf) kepada kemurkaan Allah dan mengharap kepada keampunan Allah, ditingkatkan oleh Rabiatul Adawiyah kepada zuhud karena cinta (hubb). Cinta yang murni lebih tinggi dari takut dan pengharapan, karena cinta tidak mengharap apa-apa dari yang dicintai. Karena itu dalam syi’ir-syi’ir yang masyhur, ia berkata tentang tujuan zuhudnya yaitu kepada Allah, karena Allah bukan kepada Allah karena mengharap. Rabiatul Adawiyah menganggap soal surga atau soal neraka adalah nomor dua atau bukan sama sekali, sebab cinta itu sendiri merupakan suatu ni’mat yang paling besar dan tidak ada tolok bandingannya. Dalam syi’irnya ia berbicara karena apa ia cinta kepada Allah katanya yang Artinya: “aku mencintai-Mu dengan dua (macam) cinta. Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. Cinta karena diriku adalah keadaanku senantiasa mengingat-Mu. Dan cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu menyingkap tabir hingga Kau kulihat. Baik untuk ini maupun untuk itu, pukian bukanlah bagiku tapi bagi-Mu lah pujian untuk semuanya”.
Dalam syi’ir di atas cinta menurut Rabiatul Adawiyah ada dua tingkatan; pertama cinta karena rindu kepada Allah karena Allah telah menganugerahkannya hidup sehingga dapat menyebut nama Allah. Karena itulah tidak ada lagi yang lain jadi buah kenangannya dan buah tuturnya melainkan Allah. Kedua cinta dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu cinta karena Allah berhak dan bersedia menerimanya ialah cinta karena menyaksikan keindahan (jamal) dan kebesaran (jalal) yang kian hari kian terbuka baginya hijab, pembatas yang memisahkan dirinya dengan Tuhannya. Itulah tujuan cinta yaitu melihat Allah (musyahadah) dengan hatinya. Kalau hati telah dipenuhi dengan rasa cinta, cinta yang membara dari yang mencintai kepada yang dicintai, ia tidak mengharapkan apa-apa dari yang dicintai selain dari merindukan yang dicintai. Dalam sebuah munajatnya Rabiah Adawiyah berkata: Tuhanku jika aku mengabdi kepada-Mu karena mengharap surga jauhkanlah aku dari padanya, tetapi jika Kau kupuja semata-mata karena Kau, janganlah Kau sembunyikan kecantikan-Mu yang kekal dari padaku”. Satu-satunya yang diharapkan oleh orang yang mencintai ialah bertemu dengan orang yang dicintai. Di waktu tiba malam hari ia berkata: “Ya Tuhan, bintang di langit telah gemerlapan orang telah bertiduran, pintu-pintu istana telah dikunci dan tiap kekasih telah menyendiri dengan kekasihnya, dan inilah aku di hadirat-Mu”. Sewaktu fajar telah menyingsing ia berkata: “Tuhanku, malam telah berlalu dan siang segera menampakkan diri, aku gelisah apakah amalanku Kau terima hingga aku merasa bahagia ataukah Kau tolak sehingga aku merasa sedih. Demi kemuliaan-Mu, inilah yang kulakukan selama aku Kau berikan hayat. Sekiranya Kau usir dari depan pintu-Mu aku tidak akan pergi Cinta pada-mu telah merasuk lubuk hatiku”. Puncak cintanya kepada Allah digambarkannya dalam ucapannya: wahai kekasih hati, hanya Kau-lah yang kucintai, beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadiat-Mu”. Gubuk tempat tinggal Rabiatul Adawiyah tidak dijumpai lampu dan makanan untuk besok hari. Tetapi setiap malam ia bangun mengerjakan shalat, cahaya selalu mengelilinginya, demikian juga makanan selalu datang di waktu lapar.
Sedangkan Rabiatul addawiyah dalam memahami wahyu dan akal, rabi’ah lebih mengedepankan wahyu daripada akal karena ketika seseorang sedang dimabok cinta kepada Tuhan-Nya, maka akal orang tersebut tidak akan berfungsi lagi, karena saking besarnya rasa cintanya.
2. Al-Hallaj
Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah al-Hisyam ibn Mansur ibn Muhammad al-Baidhowi al-Hallaj, dilahirkan pada tahun 224/ 858 M di kota al-Tur yang bercorak arab yang berkawasan al-Baida Iran tenggara, ia bukan orang Arab melainkan orang persi, kakeknya adalah Zoroaster dan ayahnya memeluk agama Islam, dan pengguru kapas sehingga diberi julukan al-Hallaj.
Konsep tasawuf yang terkenal dari al-Hallaj adalah konsep al-Hulul. Hulul menurut keterangan Abu Nasr al-Tusi dalam al-Luma ialah faham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat didalamnya, setelah sifat kemanusiaan yang ada ditubuhnya itu dilenyapkan, dan bila mana orang insan telah suci akan naiklah tingkat spiritual hidupnya dari satu maqom ke maqom yang lain yang lebih tinggi, seperti muslim, ke mukmin dan solohin dan akhirnya ia ke muqqoribin.
Lebih jauh lagi al-Hallaj berpendapat bahwa Allah mempunyai sifat dasar yaitu sifat Ketuhanan (lahut) dan sifat kemanusiaan (nasut), demikian pula manusia sifat dasar yang dimiliki oleh Tuhan, dengan demikian persatuan antara Tuhan dengan Manusia dapat terjadi.
Sedangkan pemikiran al-Hallaj tentang akal dan wahyu. Ia berpendapat bahwa manusia dengan akal dan wahyu Allah bisa berada di tinglkat Ma’rifat billah seperti konsep tasawufnya yaitu al-Hulul.
3. Ibnu Al’arabi
Ibnu al’Arabi Nama lengkapnya Muhammad Ibnu Ali ibnu Muhammad Ibnu ’Arabi al Tha’i al Hatimi. Nama ini dibubuhkan oleh Ibnu ’Arabi dalam Fihrist (katalog karya-karyanya). Orang-orang sezamannya, khususnya Sadruddin al Qunawi memanggilnya Abu’Abdullah. Banyak penulis pada umumnya menyebut dia sebagai Ibnu ‘Arabi. Nama singkat ini telah lama dipakai oleh para penulis Barat, sebagian mungkin meniru gaya pengarang Turki dan Iran, namun singkatan ini juga berfungsi untuk membedakan dirinya dengan salah seorang tokoh Andalusia lainnya yang terkenal, yakni Abu Bakr Muhammad Ibn ’Arabi (1076-1148), kepala hakim (Qadi) Sevilla ; kelak Ibnu ’Arabi belajar pada sepupu dari tokoh ini.
Dari nama lengkap tersebut kemudian oleh orang-orang setelahnya terutama yang mengaguminya Ia diberi gelar, antara lain : Muhyi-Din (Penghidup Agama) dan Syaikh al Akbar (Doktor Maximus). Lalu banyak penulis yang menggabungkan dua gelar itu menjadi : Syaikh al Akbar Muhyidin Ibnu al’Arabi. Dalam banyak penulisan, tokoh ini seringkali hanya disingkat dengan Ibn al’Arabi (dengan Al), Ibnu’Arabi (tanpa al) ataupun Ibn’Arabi saja.
Ibnu ‘Arabi dilahirkan pada 17 Ramadan 560 H, bertepatan dengan 28 Juli 1165 m, di Mursia, Spanyol bagian tenggara. Pada waktu kelahirannya Mursia diperintah oleh Muhammad Ibnu Sa’id Ibnu Mardanisy.3 Sebagai anak pertama dan satu-satunya lelaki, kelahirannya jelas merupakan kebahagiaan besar Apa yang menarik dari seorang Ibn Arabi? Ia seorang filosof yang gandrung tasawuf dan sebaliknya. Pikirannya seputar ketuhanan, alam, akal, wahyu banyak yang setuju dan banyak pula yang tidak. Ia dikenal konsep wihdatul wujud. Lahir di tengah keluarga sufi, lalu besari dan berkarya sampai 2000 buku, pemikiran tokoh kelahiran al-Andalusia Spanyol ini patut digali.
Ia bersentuhan dengan filsafat Yunani dan langsung bertemu dengan Ibn Rusyd (Averoes), seorang filosof kalangan Islam yang lahir di Eropa. Pemikiran wihdatul wujud (keesaan tuhan) adanya yang satu adalah esensi mutlak Allah SWT. Meminjam istilah Aristoteles, causa prima atau sebab pertama. Selain itu, pemikiran tentang insanul kamil. Yaitu tentang insan yang sempurna yang mengacu kepada tingkah laku manusia. Ini dekat dengan filsafat kenabian. Dimana setiap orang bisa mengejar jadi insanul kamil dan mencapai kenabian dengan langkah-langkah yang sungguh-sungguh.
Buku ini memaparkan sisi sufi yang ada dalam filsafat Ibn Arabi. Juga membandingkan komentar pro kontra sepanjang sejarah. Karena memang kehadiran tokoh satu ini memang mengejutkan dan menghentakkan fundamental regilis terutama mereka yang melandaskan agamanya dengan pilar syariat yang kaku dan formalistik.
Ibn Arabi mendobraknya dengan pendapat yang jauh melintas batas logika dan dekat dengan jiwa. Membuat awam menyatakan sesat atas pemikiran yang ekstrim seperti itu. Dalam aliran pemikiran, corak pemikiran Ibn Arabi ini sangat seksi untuk dibaca, dipelajari dan diungkapkan kembali. Karena ia seorang Sufi-Filosof yang mendekatkan jiwa dan logika. Tidak sekedar satu di antaranya.
Al-Farabi juga berpandangan bahwa agama dan filsafat sebagai dua sumber pengetahuan yang memiliki satu hakikat. Dia menafsirkan kedudukan seorang Nabi dan filosof, berdasarkan empat tingkatan akal teoritis, dimana Nabi adalah akal musthafa (akal yang paling tinggi) dan seorang filosof adalah akal fa’âl (akal aktif), jadi perbedaan nabi dan filosof sama dengan perbedaan kedua akal tersebut, akal musthafa lebih tinggi dari akal aktif. Perlu kita ketahui, dikalangan filosof Islam akal aktif tersebut ditafsirkan sebagai malaikat Jibril as atau ruhul qudus dalam agama Islam.
Pandangan-pandangan tersebut menjelaskan tentang wilayah dan batasan akal terhadap wahyu, dimana akal menentukan dan mendefenisikan hal-hal universal yang berhubungan dengan pandangan dunia agama, dan adapun hal-hal yang bersifat terperinci dan pengamalannya ditentukan oleh agama itu sendiri. Tujuan agama dan kemestian manusia untuk beragama serta penentuan agama yang benar dibebankan pada kemampuan akal. Akal tidak memahami masalah-masalah seperti dari mana manusia datang, tujuan hakiki kehadiran dia, cara dia berterima kasih kepada Pencipta, kemana manusia setelah meninggal, dan bagaimana bertemu Tuhannya, tetapi akal manusia memahami bahwa pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh agama (dalam pengertian khusus) dan bukan tanggung jawab serta diluar kemampuan akal pikiran manusia.
Oleh karena itu, secara umum manusia menyaksikan bahwa masalah-masalah tersebut merupakan batasan dan wilayah agama, dan hanya agama yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Secara rinci, akal tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan demikian, untuk memperoleh jawaban secara mendetail dan terperinci dari pertanyaan-pertanyaan tersebut tak ada cara lain selain merujuk kepada agama dan syariat suci Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar